Feeds:
Posts
Comments

Matahari mulai tergelincir di cakrawala barat, mengurangi intensitas panasnya yang sebelumnya begitu menyengat. Menampakkan keindahan suasana langit senja bagai bertatahkan emas kuning berkilauan.

Aku kayuh sepedaku meninggalkan lingkungan kampus yang setiap hari membuat otakku terus berputar tidak menentu. Ingin segera aku lari dari segala problematika yang terus menghimpitku, menghampiri suasana damai di kesunyian tempat tinggalku. Jalan kota yang masih ramai dengan hiruk pikuk kendaraan, kutelusuri tanpa mempedulikan keadaan sekitar. Peluh yang mengucur deras dari berbagai penjuru tubuhku tidak aku rasakan sama sekali.

Kayuhanku terhenti di persimpangan jalan tepat di bawah jembatan layang, dengan dua ruas rel melintang yang mungkin hampir setiap jam dilalui oleh kereta api. Capek juga rasanya, batinku dalam hati. Bajuku sebagian basah oleh keringat. Aku pun duduk di rerumputan samping trotoar, sambil menikmati sisa minuman yang aku bawa sejak tadi pagi.

Sore itu, cukup banyak orang yang berkeliaran di taman samping rel kereta api menikmati suasana senja. Seorang pedagang kacang dan jagung rebus tampak sibuk melayani permintaan pembeli yang berjubel di sekitar gerobak dagangannya. Rejeki nomplok rupanya. Tapi aku salut juga kepada pedagang kacang itu, karena ia mampu melihat potensi pasar bagi dagangannya. Apakah ia pernah mengambil mata kuliah Dasar-Dasar Pemasaran atau mungkin Perilaku Konsumen, aku tidak tahu. Bahkan apakah ia pernah mencicipi bangku pendidikan tinggi yang saat ini begitu mahal, sama sekali tidak terlintas dalam pikiranku. Yang jelas, insting dagang yang ia miliki lebih hebat daripada penguasaan teori yang aku geluti dalam kuliah.

Namun ditengah keramain orang serta lalu lalang kendaraan, pandanganku tertuju pada sesosok laki-laki yang duduk di persimpangan jalan seberang rel. Dengan santai ia rebahkan tubuhnya di tembok beton tiang penyangga jembatan yang penuh dengan coret-coretan cat. Bajunya begitu lusuh dan compang camping, entah sudah berapa hari ia tidak berganti pakaian. Kulitnya sangat kotor dan hitam. Tampaknya ia sudah tidak mandi selama beberapa hari. Rambut gimbal dan kumis tebal tak terawat menghiasai mukanya sehingga tampak menyeramkan. Orang yang lewat di depannya pasti akan menjauh, melihat penampilan dan tingkah laku orang yang aneh itu.

Yang paling menggelitik jiwaku adalah tingkah laku aneh orang itu. Kadang ia tertawa sendiri, tanpa aku tahu apa yang ia tertawakan. Kadang juga ia memasang mimik cemberut, seperti menyimpan amarah yang begitu besar. Ah… aku mulai berpikir tentang orang gila itu. Siapa tahu dulunya ia adalah orang yang kaya, atau mungkin seorang pejabat. Dan mungkin saja ia menjadi gila gara-gara kehilangan itu semua. Yah… bukannya harta dan tahta kadang membuat orang menjadi gila.

Tetapi, tampaknya orang itu cukup menikmati kegilaan yang ia alami. Lihat saja, bagaimana ia bisa bertahan hidup dalam keadaan seperti itu. Bagaimana juga ia mendapatkan makan dan minum ? Keingintahuan selintas yang membuatku semakin tertarik untuk tahu lebih banyak tentang orang gila itu. Namun, hari semakin petang dan akupun harus pulang.

Hari berikutnya, aku sempatkan kembali duduk-duduk di  rerumputan samping trotoar sekedar untuk melihat orang gila itu lagi. Ternyata ia masih di tempat yang sama. Kali ini ia tampak lebih kumal dari sebelumnya. Tampaknya ia belum merasa bosan berada di tempat itu. Obsesiku membuat diriku semakin ingin tahu tentang orang gila itu. Segala tingkah laku dan pikiran-pikiran aneh dari orang gila itu. Bagaimana jiwanya yang gila bisa tetap membuatnya bertahan ditempat itu?

Obsesi yang mungkin cukup gila juga. Tapi justru karena orang itu, aku menjadi lebih sering berpikir tentang dunia lain. Dunia yang selama ini tidak pernah aku hiraukan sama sekali. Dan setiap aku melihat orang gila itu, seakan otakku terstimulus untuk ingin tahu lebih banyak dan kadang muncul juga ide-ide gila di kepalaku ini. Bahkan sempat juga terlintas di pikiranku, keinginan untuk menjadi seperti orang gila itu. Lepas dari persoalan, bebas dari semua problem. Betapa mengasyikkan memikirkan siapa yang menggerakkan tubuhnya, mengenyangkan perutnya dan membuatnya tetap bertahan hidup. Sepertinya lorong jiwaku sudah terasuki keinginan-keinginan gila untuk menjadi gila.

Hampir setiap hari aku datangi tempat si gila berada, melihat segala tingkah lakunya dan berpikir tentang dunia lain. Hingga di suatu sore yang mendung, aku lihat si gila itu tampak gelisah. Entah apa yang sedang merasuki pikirannya itu. Lamunanku akan orang gila itu dikagetkan oleh suara kereta yang tiba-tiba lewat dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba orang gila itu bangkit dari duduknya, berlari mengejar kereta yang berlalu dengan cepat itu, menyusuri rel yang panjang dan menghilang ditelan cakrawala barat. Si gila itu telah pergi.

Hari berikutnya, aku coba kembali menemui si gila di tempat ia biasa mangkal. Namun ternyata ia sudah tidak ada di tempat itu. Begitu pula hari berikutnya, ia tidak kembali ke tempat itu lagi. Berhari-hari aku tunggu si gila itu. Aku sangat merindukan tingkahnya yang aneh, menumbuhkan inspirasiku dalam berpikir. Tapi ia sudah tidak ada.

Demi menunggu kembalinya si gila itu, aku tinggalkan kehidupan normalku. Kuliah aku campakkan, makan tidak teratur, dan mandi pun rasanya malas. Yang aku lakukan hanya duduk bersandar di tembok beton penyangga jembatan di persimpangan jalan, seperti yang si gila biasa lakukan. Bajuku mulai lusuh dan compang camping, badanku pun kusam tersengat terik matahari, dan dilapisi debu yang menempel di kulitku. Tapi aku tidak peduli dengan keadaan tubuhku. Yang aku inginkan hanya bertemu si gila itu.

Sering aku tertawa sendiri mengenang tingkah laku aneh si gila itu. Tak jarang pula tiba-tiba raut mukaku cemberut ketika merasa bahwa si gila tidak akan pernah kembali lagi. Orang yang lewat di sekitarku tidak pernah aku acuhkan. Biarkan saja mereka mengejek, mencela dan meringis jijik dengan penampilan dan tingkah lakuku yang menurut mereka sudah tidak waras. Bahkan sesosok lelaki yang setiap sore selalu datang mengamati tingkah lakuku tidak pernah aku hiraukan. Hingga suatu sore, jiwaku benar-benar merasa bosan menunggu lama. Ketika kereta api lewat di depanku lewat dengan kecepatan tinggi, segera aku putuskan bangkit dari dudukku dan berlari mengejar kereta api itu. Barharap bertemu si gila di ujung rel yang menghilang di cakrawala barat sana…

*sebuah cerpen lamaku… dimasa-masa sedang mencari jatidiri*

Mellow…?? Hallooo… aku sebenernya paling sebal dengan hal-hal yang berbau mellow. Kalau buah mellow aku suka banget, apalagi kalau jus mellow buatan ibuku. *mulai ngawur*

Persebaya Surabaya pernah punya striker hebat dari Brasil, namanya Carlos de Mellow. Perutnya agak buncit, pantatnya pun agak mundur. Kalau lari mirip banget bebek. Tapi, urusan mencetak gol, dialah jagonya. *makin gak nyambung*

Migrain pagi hari memang membuat otakku buntu. Belum lagi urusan pekerjaan yang seakan-akan tak kunjung usai. Rasanya pingin banget jingkrak-jingkrak diatas meja kerja sambil dangdutan lagunya bang haji Rhoma Irama. ter…la…lu…

Beberapa waktu lalu waktu nongkrong di sebuah kafe kecil di sudut kota Jogja, tiba-tiba terdengar lagu yang bener-bener menyentuh kalbu. Biarpun kepalaku sekeras batu, tapi hati ini selembut sutera *gubrakkk!!!. Pikiranku pun mengalami flashback peristiwa beberapa tahun yang lalu, saat usiaku menjelang dua dasawarsa…

kau tikam hatiku disaat ku bahagia
mengenang dia pujaan mimpiku tercipta

kau ingin pertemukan hatiku dan hatinya
tapi ternyata kau sendiri mengharap cintanya

ReFF:
kurelakan dia wahai sahabatku
bila kau sunguh mencintainya
tolong jaga dia wahai sahabatku
jangan sampai hatinya terluka… seperti hatiku

tetap tersenyum walau hatiku terluka
menjadi bijaksana dengan pengorbanan cinta

tenang sahabatku aku takan membunuhmu
bisikan hatiku mencoba tuk memaafkanmu

Lirik lagu berjudul “Dia Milik Sahabatku” ini milik band dari Yogyakarta, Newdays, di album keduanya bertajuk Selimut Hati. Lagu ini mampu menyentuh dan menyihir jejaka supertampan sang petualang cinta ini.

Huff… saat hati menjadi mellow kira2 apa yang akan kau lakukan bro?? Okay, selamat pagi semua… Sudah habis berapa botol pagi ini? Tuang lagi, yuk !!! :D

Memulai sesuatu yang pernah dimulai… judul yang membingungkan bukan?? Tapi memang inilah kenyatannya. Sebuah Blog yang lama sekali tidak terurus, ingin aku aktifkan kembali. Setelah sekian lama vakum, dan lagi-lagi aku akan beralasan kesibukan kerja yang benar-benar menyita waktuku.

Tapi tak mengapalah. Minimal, aku masih bisa menikmati beberapa tulisan yang dahulu pernah aku tuangkan di dalam Blog sederhana ini. Tak terlalu menarik memang. Tapi minimal, tulisan-tulisan ini lumayan inspiratif bagiku.

Gaya penulisanku memang aneh. Tak sekomunikatif Hermawan Kertajaya, tak setajam Jakob Utama, atau tak bisa semenarik Andy F Noya. Ya.. mereka adalah penulis-penulis kelas ulung yang secara tidak langsung, tulisan-tulisan mereka menjadi kiblat gaya penulisanku ini.

Sekali lagi, semuanya adalah tentang menulis. Ide tak akan bisa tertuang atau terkomunikasikan ke orang lain tanpa tulisan. Dan tulisan adalah ujung tombah sejarah umat manusia. Bukankah sejarah dimulai dari tulisan…

Okay, EUREKA hidup kembali… *lari2 keliling kamar sambil bugil*

Das Leben ist wie ein Spiegel – wenn Du ihm ein Lächeln schenkst bekommst Du es auch wieder!

Kehidupan itu seperti sebuah cermin - jika engkau menghadiahkan senyuman kepadanya maka engkau akan mendapatkanya kembali

Welcome Back Sheva

Anak emas Galliani kembali. Salah satu pencetak gol terbanyak AC Milan setelah Gunnar Nordahl selama 7 tahun kariernya di Rossoneri dengan 173 gol. Berbagai gelar pun ia persembahkan bagi tim rival berat Internazionale Milan ini. Dialah Andriy Shevchenko. Welcome back Sheva… Berikut petikan profil Sheva dari Wikipedia.

In 1999, Shevchenko joined A.C. Milan for a then-record transfer fee of $25 million. He made his Serie A debut on 28 August 1999 in a 2-2 draw with U.S. Lecce. He became the first foreign player to win the Serie A scoring title in his debut season, finishing with 24 goals in 32 matches.

Despite netting only five times in 24 matches, Shevchenko became the first Ukrainian-born player to win the Champions League after Milan lifted their sixth trophy in 2002-03. He scored the winning penalty in the shoot out against arch-rivals Juventus F.C. in the final, which had ended goalless after extra time. He finished top goalscorer in Serie A (2003-04) for the second time in his career, scoring 24 goals in 32 matches as Milan won the Scudetto for the first time in four years. Shevchenko capped off the year by being named the 2004 European Player of the Year, becoming the third Ukrainian player ever to win the award after Oleg Blokhin and Igor Belanov.

He scored seventeen goals in the 2004–05 season after missing several games with a fractured cheekbone. Shevchenko made Champions League history the following season; on 23 November 2005, he scored all four goals in Milan’s 4-0 group-stage drubbing of Fenerbahçe SK, becoming only the fifth player to accomplish this feat (his company includes Marco van Basten, Simone Inzaghi, Dado Pršo and Ruud van Nistelrooy). He scored his last Milan goal in the second leg of the quarterfinals as they eliminated Olympique Lyonnais after a last-minute comeback, but then fell to eventual winners Barcelona in the semifinals.

On 8 February 2006, he became Milan’s second all-time goalscorer, behind Gunnar Nordahl, after netting against Treviso

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

(Bunda by Melly Goeslaw)

Selamat ulang tahun Bunda. Maafkan aku tak bisa datang menemani, mencium tanganmu, bersimpuh dikakimu untuk mengucap terima kasih atas segala yang telah kau berikan kepadamu. Hanya ada secuil kado yang dapat aku kirimkan dan doa yang selalu aku panjatkan untukmu di tiap shalatku. Semoga engkau selalu bahagia…

Masih ingat dengan polemik pengiriman Puteri Indonesia yang menjadi wakil di ajang Miss Universe? Polemik yang paling pelik adalah lenggak lenggok Puteri Indonesia diaatas catwalk hanya dengan berbalut busana swimsuit. Dahulu polemik ini pernah muncul ketika Alya Rohali, Puteri Indonesia tahun 1996, menuai kontroversi dari dalam negeri saat dia mengenakan pakaian renang pada kontes Miss Universe di Las Vegas Amerika Serikat.

Sejak saat itu pengiriman wakil Puteri Indonesia ke ajang pemilihan ratu kecantikan sejagad yang disponsori oleh milyarder Donald Trumph ini selalu menuai pro dan kontra. Kontroversi kian memanas saat sang Puteri Indonesia akan memakai pakaian renang karena dalam kontes Miss Universe terdapat sebuah sesi dimana seluruh kontestan berlenggak-lenggok dengan busana renang.

Ajang Miss Universe terbaru beberapa waktu lalu kembali mengikutsertakan sang Putri Indonesia. Kali ini peserta Miss Universe 2008 di Vietnam, Putri Raemawasti, mengenakan bikini two pieces di ajang kontes kecantikan tersebut. Padahal mengenakan pakaian renang one piece saja sudah mengundang kehebohan luar biasa. Foto Putri berbikini ini pun langsung menghiasi sejumlah media cetak, dan kebetulan saya memperoleh foto yang memang telah beredar luas di internet.

ehemmm...

ehemmm...

Saya pun mulai berpikir, apakah memang estetika kecantikan seorang perempuan sebagian besar diukur dari dari segi kemenarikan fisik, rupawan, tubuh yang langsing, kulit yang langsat, serta tinggi semampai. Tapi jujur saja, dari sudut pandang seorang pria seperti saya, first impression kecantikan seorang wanita adalah dari balutan fisiknya. Lihat foto Putri Raemaswati melenggang dalam balutan bikini di ajang tersebut (jangan nafsu!!! – semoga bisa).

“Bikini yang dikenakannya bernuansa jingga kekuningan, berpotongan halter neck. Tubuh sintalnya dibalut lotion yang membuatnya lebih berkilau. Rambut panjangnya digerai, sedikit ikal. Puteri juga memakai anting-anting besar.” (detik.com)

Bah, pria mana yang tidak nafsu melihat panampilan hot Putri? Mata akan melotot, nafas mulai tersengal, jantung pun berdebar kencang. Ugh sial… memang sulit untuk menahannya. Tapi dibalik nafsu ini, terpampang rasa malu yang luar biasa. Sungguh sayang sekali seorang Putri Indonesia yang notabene lebih ditonjolkan untuk menjadi duta pariwisata sekaligus duta dalam berbagai kegiatan sosial, berpenampilan syur di depan publik internasional. Andai Naga Bonar menonton langsung kontes itu, dia akan berdiri, berlari di atas podium dan berteriak keras: Apa kata dunia?? (hiperbolis mode: ON)

ehemmm lagi...

ehemmm lagi...

Sekali lagi, ini adalah ungkapan subyektif dari saya. Dari segi estetika seni, tubuh indah yang terekspos dari Putri Raemaswati sungguh aduhai (ups…). Tapi bicara unsur kesopanan, tak layak seorang wanita memakai busana yang menonjolkan aurat dimuka umum. Jadi ingat pernyataan gadis asal Blitar, Jawa Timur ini beberapa waktu sebelum kontes Miss Universe.

“Aku di sana nanti, walaupun bercampur dengan beberapa negara, tapi aku ingin tetap memamerkan bahwa ini lho orang Indonesia yang sopan dan kalem, tapi bukan seorang wanita yang lemah.” (Putri Raemaswati)

Jadi speechless ni. Tapi terserah anda saja lah yang menilainya…

 

foto dari berbagai sumber

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Sore hari waktu sedang lembur, saya mendengarkan lagu yang didendangkan oleh Iwan Fals ini. Alunan lagu dengan nada mendayu-dayu ini mampu membuat saya merinding trenyuh. Rindu akan ketokohan seorang Muhammad Hatta untuk mengentaskan persoalan negeri yang sedang carut-marut ini.

 

Teringat sebuah cerita yang sangat mengharukan, namun sarat keteladanan tinggi dari seorang pemimpin bernama Hatta ini. Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah (mungkin jaman sekarang setaraf Nike atau Reebok yaa…??). Bung Hatta yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI, berminat pada sepatu ini. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, selalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

 

Namun,tabungannya tak pernah cukup karena selalu terpakai untuk kebutuhan rumah tangga atau untuk membantu kerabat yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga tutup usia pada tanggal 14 Maret 1980, sepatu Bally idaman beliau tidak pernah terbeli. Guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta.

 

Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Tapi cara itu sama sekali tidak dilakukan oleh Bung Hatta. Andai saya yang berposisi seperti Bung Hatta, pastilah saya akan menghubungi Dubes untuk minta “oleh-oleh” sepatu itu.

 

Sebuah politik sederhana nan bersih dari seorang Hatta adalah tidak pernah mau menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, termasuk dalam urusan rahasia negara. Ketika pemerintahan Soekarno menerapkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1, Hatta tidak membocorkan hal itu, sekalipun kepada keluarganya sendiri. Beliau berprinsip,rahasia negara tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun.

 

Pemimpin Indonesia saat ini, mana ada yang seperti itu…? Andaikan ada, jarang sekali dia benar-benar istiqomah memegang teguh prinsipnya. Apalagi tadi pagi saya mendengar berita penangkapan anggota DPR karena dugaan korupsi. Naudzubillah… setelah santer berita penyuapan di kejaksaan, lembaga sekaliber DPR yang notabene berisi wakil-wakil yang dipercaya rakyat untuk membuat kebijakan penentu nasib bangsa ini. Mau jadi apa bangsa ini bila pemimpinnya saja bejat seperti itu (maaf bila kalimatnya terlalu keras, karena ini adalah sebuah ungkapan geram yang amat sangat).

 

Ah… andai pemimpin kita saat ini seperti Bung Hatta yang memiliki sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya para pemimpin kita tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing (menangis dalam hati…)

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

(Bung Hatta – Iwan Fals)

Older Posts »