24 tahun yang lalu ada seorang wanita tangguh yang berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan bayinya. Bayi itupun lahir dengan selamat. Yups, bayi laki-laki yang lucu. Wanita itu begitu bahagia mengetahui putranya lahir dengan sehat dan lengkap, sehingga lenyap semua rasa sakit dan lelahnya. Tangisan keras si jabang bayi mampu memecah kesunyian waktu Subuh. Kumandang adzan mengiringi kelahiran sang bayi, disambut tangis bahagia sang bunda dan sang ayah.
Wanita itu tak lain tak bukan adalah Bundaku. Salah satu wanita paling bepengaruh dalam hidupku, hidup sang jabang bayi yang beliau perjuangkan mati-matian 24 tahun lalu. Tanpa beliau, aku bukanlah apa-apa. Beliau lah yang selalu ada dalam setiap episode cerita hidupku. Beliau pula lah yang mungkin satu-satunya wanita yang sudi menitikkan air mata demi aku. Bunda menangis bahagia di kala aku suka, dan menangis sedih di kala aku berduka. Tak ada yang lain.
Kini, 24 tahun sudah berlalu. Meski secara fisik beliau telah renta, mata kian sayu, dan wajah pun telah mulai berkeriput, namun bagiku Bunda adalah wanita tertangguh di dunia. Wanita paling berjasa dalam hidupku.
Hari ini, kawan-kawanku mengucapkan selamat atas ulang tahunku. Tapi aku merasa, ucapan selamat itu lebih pantas disematkan kepada Bunda. Berkat perjuangan beliau 24 tahun yang lalu, aku bisa menghembuskan nafas didunia ini. Awal aku bisa melangkah di atas tanah, menatap langit biru, dan melakoni sandiwara kehidupan yang penuh liku-liku.
Matur nuwun Bunda. Ingin aku bersimpuh di kakimu. Sembah sungkem putramu ini dari jauh..