Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…
Sore hari waktu sedang lembur, saya mendengarkan lagu yang didendangkan oleh Iwan Fals ini. Alunan lagu dengan nada mendayu-dayu ini mampu membuat saya merinding trenyuh. Rindu akan ketokohan seorang Muhammad Hatta untuk mengentaskan persoalan negeri yang sedang carut-marut ini.
Teringat sebuah cerita yang sangat mengharukan, namun sarat keteladanan tinggi dari seorang pemimpin bernama Hatta ini. Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah (mungkin jaman sekarang setaraf Nike atau Reebok yaa…??). Bung Hatta yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI, berminat pada sepatu ini. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, selalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.
Namun,tabungannya tak pernah cukup karena selalu terpakai untuk kebutuhan rumah tangga atau untuk membantu kerabat yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga tutup usia pada tanggal 14 Maret 1980, sepatu Bally idaman beliau tidak pernah terbeli. Guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta.
Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Tapi cara itu sama sekali tidak dilakukan oleh Bung Hatta. Andai saya yang berposisi seperti Bung Hatta, pastilah saya akan menghubungi Dubes untuk minta “oleh-oleh” sepatu itu.
Sebuah politik sederhana nan bersih dari seorang Hatta adalah tidak pernah mau menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, termasuk dalam urusan rahasia negara. Ketika pemerintahan Soekarno menerapkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1, Hatta tidak membocorkan hal itu, sekalipun kepada keluarganya sendiri. Beliau berprinsip,rahasia negara tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun.
Pemimpin Indonesia saat ini, mana ada yang seperti itu…? Andaikan ada, jarang sekali dia benar-benar istiqomah memegang teguh prinsipnya. Apalagi tadi pagi saya mendengar berita penangkapan anggota DPR karena dugaan korupsi. Naudzubillah… setelah santer berita penyuapan di kejaksaan, lembaga sekaliber DPR yang notabene berisi wakil-wakil yang dipercaya rakyat untuk membuat kebijakan penentu nasib bangsa ini. Mau jadi apa bangsa ini bila pemimpinnya saja bejat seperti itu (maaf bila kalimatnya terlalu keras, karena ini adalah sebuah ungkapan geram yang amat sangat).
Ah… andai pemimpin kita saat ini seperti Bung Hatta yang memiliki sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya para pemimpin kita tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing (menangis dalam hati…)
Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…(Bung Hatta – Iwan Fals)