Hidup adalah sebuah Karya seni. Kita melukisnya melalui tindakan, pikiran dan kata-kata.
Pernahkah Anda menyesal dengan masa lalu? Sebagian besar dari kita mungkin pernah, apalagi bila kita pernah melakukan kesalahan yang sungguh fatal. Kesalahan yang dapat mengubah hidup kita, atau minimal kesalahan yang akan terus menerus membayangi kehidupan kita dari waktu ke waktu.
Setiap manusia selalu mengalami fase yang disebut dengan penyesalan. Yups, memang kadang kita kurang hati-hati dalam menjalani hidup. Mengapa? Rasio berpikir kita kadang sering naik turun dalam menimbang resiko masa depan yang akan kita hadapi atas tindakan kita. Unsur nafsu, gegabah dan tanpa pertimbangan serta kehilangan akal sehat mungkin menjadi aktor utama penyesalan hidup ini.
Sebagian besar motivator selalu mengagung-agungkan kegagalan sebagai awal dari keberhasilan. Kegagalan sebagai tonggak dan cambuk semangat untuk terus dan terus berusaha. Bahkan ada pula yang menganggap kegagalan adalah sebuah metode terapi terbaik untuk menuju kesuksesan. Masuk akal, namun kita harus hati-hati dan jangan salah kaprah menyikapinya.
Hidup ini bukanlah game strategi yang bisa di save lalu di-open kembali bila kita kalah dalam permainan. Atau sebuah foto dalam format JPEG yang bisa kita permak habis-habisan menggunakan photoshop sehingga menjadi enak dipandang. Dan yang pasti, hidup ini bukanlah pita kaset yang dapat kita putar bolak balik (alias rewind) untuk kita perdengarkan kembali bila kurang merasa puas.
Dalam hidup, hanya ada dua hal: STOP and PLAY. Tak ada tombol REPLAY, dan tak mungkin pula kita pencet UNDO. Jangan sampai kita melakukan kesalahan yang dapat membayangi kehidupan kita kelak. Yang menjadi sebuah inti hidup adalah “HATI”. Tanpa hati, rasio berpikir kita akan resiko masa depan kita menjadi sangat kecil. Jadi jangan meremehkan sebuah kesalahan hidup. Lakukanlah hidup ini dengan sesempurna mungkin. Bukankah kita hidup hanya sekali saja?
Kalau orang Jawa bilang “urip mung mampir ngombe” (hidup hanya mampir minum saja), mungkin bisa kita tambahkan sebuah added value bahwa kita tak hanya mampir minum saja di dunia ini. Namun kalau bisa kita bisa memanfaatkan sebaik mungkin untuk makan gorengan, atau kalau bisa kita ambil nasi sekaligus lauk pauknya untuk kita makan sekenyang-kenyangnya.
Mengapa kita tidak mencoba untuk menghadapi hidup ini dengan sesempurna mungkin? Menghindari resiko kesalahan hidup yang mungkin akan kita sesali seumur hidup, diganti dengan melakukan segalanya dengan hati dan rasio yang realistis. Semoga kita bisa menjalani hidup ini dengan sempurna. ~_^
*sebuah inspirasi yang muncul tiba-tiba karena sempat berpikir untuk menjadi seorang yang perfeksionis, halah!!*