Teman-teman TK??? Tampaknya sebagian orang sudah lupa dengan teman-teman TK. Apalagi masa TK begitu singkat dan mungkin tidak terlalu berkesan. Namun lain bagiku, masa TK adalah awal dari perkenalanku dengan dunia luar. Hari-hari yang biasanya hanya dilalui di rumah atau paling jauh di halaman, kali ini mulai berubah. Aktivitas sekolah (meskipun lebih sekedar “hanya” bermain) menjadi rutinitas baru yang begitu berkesan. Kesan ini tidak muncul begitu saja. Apalagi kalau bukan karena teman-teman, Ibu Guru, dan Bapak Penjaga Kebun TK.
Beberapa teman yang paling aku ingat tidak terlalu banyak. Yoga, anak dengan badan paling bongsor sekaligus paling nakal di sekolah. Aku pernah berkelahi dengan dia hanya gara-gara berebut bangku. Tentu saja aku kalah, karena ditindih dan dikunci ala gulat smack down dengan badan besarnya. Senjata pamungkas bagi anak balita pun aku keluarkan. Menangis sekeras-kerasnya, lantas mengadu ke Ibu Guru. Yups, berkelahi boleh kalah tapi aku menang licik. Saat Yoga dimarahi dan dijewer oleh Ibu Guru, tawa kemenanganku pun berkumandang dalam hati. Jahat memang…
Ida, wanita tercantik nomer dua di TK SPG Negeri 2 (menurutku saat itu wanita tercantik di TK adalah Ibu Suwarni, guruku yang paling baik). Ida adalah cinta pertamaku. Bocah sekecil aku waktu itu pun sudah mengerti cinta. Meskipun hingga kini cinta itu bertepuk sebelah tangan, tapi tak apalah. Kadang cinta memang tidak harus memiliki. Bayangkan, betapa perih penderitaan cinta yang diderita anak sekecil itu. Aku mulai memahami bahwa penderitaan cinta memang tak memandang usia.
Berturut-turut ada Ipung dan Asep. Dua teman sekaligus pengikut setiaku dalam berburu bekicot dan capung di kebun belakang sekolah. Sari, anak perempuan yang paling sering aku jahilin. Apalagi tiap senam pagi di hari Jumat, aku tak pernah absen menjadi aktor utama kejahatan kelas kakap untuk ukuran anak TK. Menyembunyikan baju ganti dan sepatu kulit berwarna merah milik Sari. Alhasil, Sari selalu menangis tiap menemukan baju ganti dan sepatu kesayangannya lenyap entah kemana. Kemudian Heri, kawan sekaligus lawan dalam bersaing memperebutkan cinta Ida. Heri pun juga bernasib sama seperti aku, tak jua memperoleh cinta dari Ida. Akhirnya kami, dua pria cilik tanpa cinta, menjlin persahabatan. Persahabatan karena persamaan nasib, begitu erat…
Bayu, tetangga sebelah rumah sekaligus si tukang bual. Bahkan bualannya pernah membuatku harus menyanyi di depan kelas gara-gara dia berhasil memprovokasi Ibu Guru dan teman-teman sekelas dengan berkata bahwa aku adalah juara lomba menyanyi anak-anak se RT waktu acara 17an. Yups saat disuruh maju, nyanyian andalan anak kecil zaman itu pun aku keluarkan. Lagu yang dinyanyikan Ahmad Albar, penyanyi favoritku saat itu, yaitu Huma Di Atas Bukit. Sayang, Tuhan tidak mengkaruniaiku suara seindah vokalis God Bless ini. Jadilah lagu ini lebih mirip nyanyian anak kecil dikejar setan. Malu tujuh keliling, apalagi tampil di depan Ida dan Ibu Suwarni.
Aku juga pernah ngompol di kelas. Memalukan sekali. Tapi itu lebih baik daripada aku harus menahan hasrat ingin pipis lebih lama lagi, dan siap tahu aku akan kena radang kandung kemih gara-gara hal ini. Tapi faktanya adalah karena aku takut ke kamar mandi sekolah sendirian. Maklum, waktu itu kamar mandi sekolah yang begitu sepi adalah salah satu momok paling menakutkan bagi anak sekecil aku. Dan saat para siswa sedang asyik-asyiknya menggambar, tiba-tiba ada air mengalir dari bangku mungilku ditambah merebaknya bau pesing. Kelas pun bubar. Alhasil, pada hari itu aku menjadi siswa yang pulang paling awal daripada teman-temanku. Dan Bapak Penjaga Kebun Sekolah pun dengan sukarela meminjamkan celananya ke aku. Hebat bukan…???
Lantas bagaimana prestasiku selama di TK. Wah, itu cerita lain lagi. Mungkin episode depan sekaligus sebagai penutup cerita masa-masa TK ku yang indah. Malam ini aku ingin pulang ke kos, mandi, terus tidur….