E U R E K A

Hanya sedikit dari sekian banyak hal yang ingin aku tulis….

Akhirnya Sang Puteri Indonesia Pun Berbikini Juga 15 July, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 10:27 am
Tags:

Masih ingat dengan polemik pengiriman Puteri Indonesia yang menjadi wakil di ajang Miss Universe? Polemik yang paling pelik adalah lenggak lenggok Puteri Indonesia diaatas catwalk hanya dengan berbalut busana swimsuit. Dahulu polemik ini pernah muncul ketika Alya Rohali, Puteri Indonesia tahun 1996, menuai kontroversi dari dalam negeri saat dia mengenakan pakaian renang pada kontes Miss Universe di Las Vegas Amerika Serikat.

Sejak saat itu pengiriman wakil Puteri Indonesia ke ajang pemilihan ratu kecantikan sejagad yang disponsori oleh milyarder Donald Trumph ini selalu menuai pro dan kontra. Kontroversi kian memanas saat sang Puteri Indonesia akan memakai pakaian renang karena dalam kontes Miss Universe terdapat sebuah sesi dimana seluruh kontestan berlenggak-lenggok dengan busana renang.

Ajang Miss Universe terbaru beberapa waktu lalu kembali mengikutsertakan sang Putri Indonesia. Kali ini peserta Miss Universe 2008 di Vietnam, Putri Raemawasti, mengenakan bikini two pieces di ajang kontes kecantikan tersebut. Padahal mengenakan pakaian renang one piece saja sudah mengundang kehebohan luar biasa. Foto Putri berbikini ini pun langsung menghiasi sejumlah media cetak, dan kebetulan saya memperoleh foto yang memang telah beredar luas di internet.

ehemmm...

ehemmm...

Saya pun mulai berpikir, apakah memang estetika kecantikan seorang perempuan sebagian besar diukur dari dari segi kemenarikan fisik, rupawan, tubuh yang langsing, kulit yang langsat, serta tinggi semampai. Tapi jujur saja, dari sudut pandang seorang pria seperti saya, first impression kecantikan seorang wanita adalah dari balutan fisiknya. Lihat foto Putri Raemaswati melenggang dalam balutan bikini di ajang tersebut (jangan nafsu!!! – semoga bisa).

“Bikini yang dikenakannya bernuansa jingga kekuningan, berpotongan halter neck. Tubuh sintalnya dibalut lotion yang membuatnya lebih berkilau. Rambut panjangnya digerai, sedikit ikal. Puteri juga memakai anting-anting besar.” (detik.com)

Bah, pria mana yang tidak nafsu melihat panampilan hot Putri? Mata akan melotot, nafas mulai tersengal, jantung pun berdebar kencang. Ugh sial… memang sulit untuk menahannya. Tapi dibalik nafsu ini, terpampang rasa malu yang luar biasa. Sungguh sayang sekali seorang Putri Indonesia yang notabene lebih ditonjolkan untuk menjadi duta pariwisata sekaligus duta dalam berbagai kegiatan sosial, berpenampilan syur di depan publik internasional. Andai Naga Bonar menonton langsung kontes itu, dia akan berdiri, berlari di atas podium dan berteriak keras: Apa kata dunia?? (hiperbolis mode: ON)

ehemmm lagi...

ehemmm lagi...

Sekali lagi, ini adalah ungkapan subyektif dari saya. Dari segi estetika seni, tubuh indah yang terekspos dari Putri Raemaswati sungguh aduhai (ups…). Tapi bicara unsur kesopanan, tak layak seorang wanita memakai busana yang menonjolkan aurat dimuka umum. Jadi ingat pernyataan gadis asal Blitar, Jawa Timur ini beberapa waktu sebelum kontes Miss Universe.

“Aku di sana nanti, walaupun bercampur dengan beberapa negara, tapi aku ingin tetap memamerkan bahwa ini lho orang Indonesia yang sopan dan kalem, tapi bukan seorang wanita yang lemah.” (Putri Raemaswati)

Jadi speechless ni. Tapi terserah anda saja lah yang menilainya…

 

foto dari berbagai sumber

 

Rindu Pemimpin Seperti Hatta 2 July, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 5:36 pm
Tags:

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Sore hari waktu sedang lembur, saya mendengarkan lagu yang didendangkan oleh Iwan Fals ini. Alunan lagu dengan nada mendayu-dayu ini mampu membuat saya merinding trenyuh. Rindu akan ketokohan seorang Muhammad Hatta untuk mengentaskan persoalan negeri yang sedang carut-marut ini.

 

Teringat sebuah cerita yang sangat mengharukan, namun sarat keteladanan tinggi dari seorang pemimpin bernama Hatta ini. Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah (mungkin jaman sekarang setaraf Nike atau Reebok yaa…??). Bung Hatta yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI, berminat pada sepatu ini. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, selalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

 

Namun,tabungannya tak pernah cukup karena selalu terpakai untuk kebutuhan rumah tangga atau untuk membantu kerabat yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga tutup usia pada tanggal 14 Maret 1980, sepatu Bally idaman beliau tidak pernah terbeli. Guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta.

 

Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Tapi cara itu sama sekali tidak dilakukan oleh Bung Hatta. Andai saya yang berposisi seperti Bung Hatta, pastilah saya akan menghubungi Dubes untuk minta “oleh-oleh” sepatu itu.

 

Sebuah politik sederhana nan bersih dari seorang Hatta adalah tidak pernah mau menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, termasuk dalam urusan rahasia negara. Ketika pemerintahan Soekarno menerapkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1, Hatta tidak membocorkan hal itu, sekalipun kepada keluarganya sendiri. Beliau berprinsip,rahasia negara tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun.

 

Pemimpin Indonesia saat ini, mana ada yang seperti itu…? Andaikan ada, jarang sekali dia benar-benar istiqomah memegang teguh prinsipnya. Apalagi tadi pagi saya mendengar berita penangkapan anggota DPR karena dugaan korupsi. Naudzubillah… setelah santer berita penyuapan di kejaksaan, lembaga sekaliber DPR yang notabene berisi wakil-wakil yang dipercaya rakyat untuk membuat kebijakan penentu nasib bangsa ini. Mau jadi apa bangsa ini bila pemimpinnya saja bejat seperti itu (maaf bila kalimatnya terlalu keras, karena ini adalah sebuah ungkapan geram yang amat sangat).

 

Ah… andai pemimpin kita saat ini seperti Bung Hatta yang memiliki sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya para pemimpin kita tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing (menangis dalam hati…)

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

(Bung Hatta – Iwan Fals)

 

Ponsel Pengaruhi Kualitas Sperma 2 July, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 3:02 pm
Tags:

Anda pengguna aktif ponsel ? Ada riset menarik mengenai dampak negatif dari radiasi telepon selular yang kembali mendapat sorotan. Kali ini, sebuah riset mengklaim penggunaan ponsel yang berlebihan dapat mempengaruhi kualitas sperma.

Kaitan penggunaan ponsel dan kualitas sperma diungkap oleh para ahli melalui riset pendahuluan di Cleveland Clinic, Amerika Serikat. Dengan melibatkan 361pasien klinik, peneliti menemukan bahwa semakin lama pria menggunakan ponsel setiap hari, semakin menurun jumlah sel sperma dan semakin besar pula prosentase jumlah sperma abnormal. Nah lo…

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility ini merupakan fakta lain yang mempertanyakan dampak potensial penggunaan ponsel atau alat-alat nirkabel terhadap kesehatan. Beberapa riset sebelumnya kerap menghubungkan radiasi ponsel dengan timbulnya gangguan kesehatan seperti penyakit susah tidur atau tumor otak.

Yang menjadi kekhawatiran selama ini adalah energi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel secara teoretis dapat mempengaruhi sel-sel tubuh. Apalagi juga digunakan dalam waktu lama, ponsel dikhawatirkan mengganggu jaringan dengan cara merusak DNA.

Tetapi temuan para ahli di Cleveland ini tidak memberikan bukti bahwa radiasi ponsel dapat merusak sperma. “Hasil penelitian kami menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara penggunaan ponsel dengan penurunan kualitas semen. Namun begitu, ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat,” ungkap pimpinan riset, Dr Ashok Agarwal.

Dalam penelitiannya, Agarwal beserta tim meneliti sampel semen dari 361 pria yang mengunjungi klinik infertilitas selama sekitar setahun. Peneliti juga mengadakan semacam kuisioner kepada seluruh partisipan untuk menanyakan soal kebiasaan menggunakan ponsel.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa jumlah dan kualitas sel sperma cenderung menurun seiring meningkatnya jumlah waktu penggunaan ponsel. Pria yang dalam kuisioner mengaku menggunakan ponsel rata-rata empat jam sehari tercatat memiliki rata-rata jumlah sel sperma terendah serta jumlah sel normal / aktif terendah.

“Kami mengasumsikan dari hasil penelitian ini bahwa penggunan ponsel yang berlebihan berhubungan dengan rendahnya kualitas semen,” kata Agarwal. Tetapi apakah ponsel dapat secara langsung mempengaruhi kesuburan pria masih belum jelas.

Agarwal mengatakan, timnya juga saat ini tengah melakukan dua riset lanjutan untuk mempertegas asumsi tersebut. Pada riset pertama, peneliti menyinari sampel semen dengan radiasi elektromagnetik dari ponsel untuk melihat dan mengetahui dampak apa yang akan terjadi.

Sedangkan pada riset kedua, peneliti akan meneruskan riset awal dengan melibatkan jumlah pria yang lebih banyak. Menurut Agarwal, riset ini juga akan memperhitungkan faktor lain yang akan mempengaruhi seperti gaya hidup serta risiko yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mempengaruhi kualitas sperma.

Jadi patut kita tunggu riset selanjutnya dari peneliti-peneliti jenius itu. Yuks…

sumber: kompas

 

BBM dan Nasib Nelayan 18 June, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 6:34 pm
Tags:

Setelah diterpa gelombang tinggi beberapa waktu lalu, tak berselang lama para nelayan kembali diterjang gelombang kenaikan harga BBM. Dampaknya kenaikan harga BBM lebih parah daripada gelombang tinggi yang bersifat temporer. Efeknya pun lebih luas karena tidak hanya berpengaruh pada nelayan pesisir pantai selatan Jawa, namun seluruh nelayan di pesisir pantai Indonesia. Bukan tidak mungkin sebagian nelayan akan kehilangan satu-satunya mata pencaharian mereka di laut.

Mengapa bisa begitu? Singkat kata singkat cerita, biaya produksi yang kian melonjak. Minyak solar ataupun minyak diesel yang menjadi faktor produksi variabel paling berpengaruh bagi nelayan meningkat drastis hingga 30 persen. BBM merupakan faktor produksi yang utama, karena hampir semua kapal ikan yang dimiliki oleh nelayan saat ini bertenaga motor diesel.

Kenaikan harga minyak solar maupun diesel akan mempengaruhi biaya yang harus dikeluarkan nelayan untuk melaut. Akibat melonjaknya biaya produksi, maka yang terjadi adalah penurunan pendapatan nelayan. Ini dikarenakan hasil tangkapan mereka sehari-hari tergolong konstan, kecuali pada saat-saat tertentu saat jumlah ikan di laut melimpah ruah. Harga ikan di pasaran pun masih belum mapu terdongkrak, apalagi bila hasil dari nelayan dibeli tengkulak dengan harga rendah.

Dampak yang lebih dahsyat bisa terjadi pada nelayan yang ada di pantai-pantai pedalaman. Imbas kenaikan harga BBM, kian memperburuk kondisi mereka yang sebelumnya sudah susah. Bisa saja nelayan ini tidak memperoleh pendapatan atau bahkan merugi karena hasil tangkapan mereka tiap hari tidak mampu menutupi biaya produksi yang harus ditanggung untuk melaut. Langkanya BBM serta distribusi yang sangat sulit membuat harga BBM di daerah pedalaman bisa mencapai berkali-kali lipat dari harga normal. Akibatnya, biaya produksi yang ditanggung oleh nelayan ini pun akan berkali-kali lipat pula banyaknya. Dengan hasil tangkapan sehari-hari yang tidaklah seberapa, tidak mustahil sebagian dari mereka gulung layar karena tidak mampu lagi menutup biaya produksi yang harus ditanggung.

Dari dulu hingga sekarang, nasib para nelayan kecil yang sebagian besar adalah keluarga miskin yang hidup di pesisir pantai dan menggantungkan hidupnya dari hasil tangkapan di laut tetap saja mengenaskan. Mata pencaharian satu-satunya yang rentan dengan resiko, belum mampu mengentaskan mereka dari jurang kemiskinan. Tapi karena tidak ada pilihan lain atau bahkan berlayar adalah satu-satunya keahlian yang telah diwariskan secara turun temurun, para nelayan pun tetap menjalaninya. Meskipun hasilnya kadang tidak seberapa bila dibandingkan dengan tenaga yang dikeluarkan serta resiko yang ditanggung, namun asal masih bisa membuat dapur rumah mengepul dan anak istri makan setaip hari maka profesi ini masih terus digelutinya.

Tapi bagaimana nasib para keluarga nelayan bila ternyata hasil dari mata pencaharian di laut tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan hidup mereka. Ditambah pula perhatian dari pemerintah yang kadang sangat kurang, terutama bagi nelayan di pedalaman. Ribuan keluarga nelayan mungkin akan kehilangan sumber penghidupan dari laut. Bisa saja mereka terpaksa berhenti dari profesinya dan mencari lahan penghidupan lain yang dirasa lebih bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.

Meskipun perairan Indonesia begitu luas dengan potensi hasil yang berlimpah ruah, tapi sering tidak mampu dijangkau oleh para nelayan untuk mengeksplorasinya karena berbagai hambatan dan keterbatasan yang ada. Keluarga nelayan yang kehidupannya sudah sulit, menjadi semakin sulit dengan kenaikan BBM. Sungguh sangat tragis bila hal ini luput dari perhatian pemerintah. Pasar-pasar ikan di pelabuhan yang biasanya ramai dengan transaksi dan lelang hasil tangkapan laut, serta memiliki potensi wisata, akan sepi penjual karena tidak adanya hasil tangkapan. Lalu-lalang kapal penangkap ikan di perairan lepas pantai, akan semakin berkurang. Dan layar para nelayan tak akan pernah lagi terkembang.

Bisa saja petikan lagu “nenek moyangku seorang pelaut…,” yang sering kunyanyikan waktu duduk di bangku sekolah dasar, hanya tinggal retorika saja.

 

Berani Melawan Amerika ? 5 June, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 8:23 am
Tags:

dollar vs euro

Dahulu rata-rata kita menduga alasan Amerika menyerang Saddam Hussein dan negerinya, Iraq, karena: Amerika ingin menghancurkan Islam; atau Amerika ingin melibas terorisme; atau Amerika itu memang bandit; atau Bush Junior memiliki dendam secara pribadi kepada Saddam yang dulu gagal dihancurkan Bapaknya Bush Senior; atau ulah Yahudi (intelektual kriminal Perle & Wolfowitz) yang saat itu merupakan penasehat utama Bush; atau untuk menguasai minyaknya Iraq; ataupun variasi-variasi lainnya.

Kini terbukti semua pandangan itu tidak 100% salah tapi juga “salah” karena itu semuanya cuma masalah kecilnya saja. Semua dugaan itu tidak menjelaskan alasan utama perang Iraq ini dari sudut pandang Amerika sendiri. Karena, tujuan paling utama dari perang Iraq ini adalah:

Menyelamatkan dolar dari euro

Di mata Amerika (yang dahulu menghadiahkan sebuah rezim Suharto ke negeri bernama Indonesia) dosa terbesar Iraq adalah ketika pada tahun 2000 lalu Saddam meminta ke PBB agar seluruh minyaknya dibayar menggunakan euro, plus semua uang milik Irak (sebesar kurang lebih $10 bilyun) dikonversikan dari dollar ke euro. Saat itu semua orang memandang ide Saddam tersebut adalah tindakan bodoh karena nilai euro waktu itu masih 90% dari nilai dollar. Euro pun sejak dikeluarkan pada Januari 1999 terus menerus terdepresiasi atas dollar yang permintaannya memang kuat sekali.

Tetapi, sekarang euro ternyata sudah terapresiasi sebesar hampir 100% dari harga sebelumnya. Dengan kata lain langkah “gila” Saddam tahun 2000 dahulu ternyata sangat menguntungkan dan bahkan jenius! Langkah ini pula yang “kemungkinan” sekarang sedang dikaji oleh Ahmedinejad dengan Iran-nya yang akan cuma mau menerima transaksi minyak dengan euro dan menolak dollar (wajar saja saat ini Iran sedang diambang ancaman jet-jet tempur dan Tomahawk Amerika lewat isu nuklir). Dan kita semua tahu bahwa di dunia ini kartel perdagangan terkuat adalah minyak. Kartel mobil, atau komputer, atau produk-produk lain praktis tidak eksis. Siapapun harus beli minyak.

Lantas perlu kita perhatikan bahwa anggota OPEC  berisi musuh Amerika yang nyata-nyata memang benci kepada Amerika, karena rata-rata anggotanya adalah negara Islam. Bahkan yang bukan negara Islam pun seperti Venezuela yang dipimpin Hugo Chavez juga begitu anti Amerika. Entah karena takut pula dianggap sebagai musuh Amerika atau tidak, pemerintahan SBY baru-baru ini menyatakan keluar dari keanggotaan OPEC.

Andai saja semua anggota kartel minyak ini memang mau “jahat” terhadap Amerika, maka caranya gampang sekali. Mereka cukup bilang: “kita sekarang hanya mau bertransaksi menggunakan euro.” Dan selesailah dollarnya Amerika, bangkrut serta kiamat jugalah kapitalis Amerika.

Bagi orang yang yang tidak memiliki background ekonomi mungkin bingung. Koq bisa bangkrut? Hitung-hitungan ekonomi bisa menjelaskan, andai kita punya uang tunai $1 di tangan maka secara ekonomi artinya adalah Anda memberi hutang ke Bank Federal milik Amerika. Bank Federalnya Amerika itu “berjanji” akan membayar hutangnya sebesar $1 itu.

Saat ini, karena kita tinggal di Indonesia (yang rupiahnya sangat parah itu) secara rasional kita berusaha terus memegang $1 ditangan daripada ditukar ke rupiah. Bukan begitu? Jadi secara ekonomi artinya Bank Federal Amerika tidak perlu menebus hutangnya karena hutangnya yang $1 itu tidak kita minta untuk dibayar. Artinya Amerika bisa berhutang kepada Indonesia tanpa perlu bayar sama sekali, sepanjang ekonomi Amerika masih kuat, segala sektor bisnis kita dikuasai Amerika, serta dollar masih jadi standard alat tukar dunia.

Dengan alasan inilah Amerika berani bermain defisit gila-gilaan dalam APBN-nya selama ini karena toh mereka memang tidak perlu membayar defisitnya. Orang sedunia yang memegang dollarlah yang justru membayar defisit Amerika itu.

Supaya jelas mari kita lihat rupiah. Kalau budget Republik Indonesia defisit maka negara ini harus nombok dengan cara menjual barang alias eksport atau mencari utangan (via CGI). Jadi defisitnya negara seperti Indonesia yang gemah ripah loh jinawi ini betul-betul adalah “defisit” yang harus dibayar. Andai tidak bisa bayar, maka yang terjadi adalah seperti yang kita alami pada tahun 1997 yang hingga kini belum pulih yaitu KRISMON.

Namun Amerika lain. Defisit bagi Amerika justru malah positif karena defisit Amerika itu cara bayarnya adalah dengan cara memotong nilai $1 yang kita pegang secara intristik. Berarti, kalau Amerika defisit maka yang rugi adalah kita atau negara non-Amerika yang memegang dollar. Artinya, bila ekonomi Amerika goyah maka justru efeknya akan leih parah lagi bagi negara-negara lain yang di dalam negerinya bertebaran lembaran-lembaran dollar maupun negara dengan cadangan devisa berbentuk dollar (seperti Indonesia ini contohnya).

Cara kerja sistem ekonomi kapitalis yang imperialistik ini berlaku sepanjang orang seperti kita dan negara Republik Indonesia itu masih “percaya” dengan dollar dan menyimpan cadangan devisanya dalam bentuk dollar. Eropa tahu persis tentang strategi makan gratis dan utang tidak perlu bayar ini. Karena itulah Eropa menciptakan euro.

Sebetulnya ada satu hal paling mengerikan bagi Amerika. Yaitu kenyataan bahwa 80% uang dollarnya justru beredar di luar negeri, ditangan negara-negara seperti Indonesia, Cina, Jepang, India dan negara-negara Asia lainnya termasuk negara eksportir minyak. Andaikan mendadak saja semua negara penghasil minyak menyatakan semua transaksinya tidak menggunakan dollar namun menggunakan Euro, maka kemungkinan besar Amerika akan kolaps. Ini mungkin sekali terjadi karena semua negara perlu beli minyak, sehingga tekanan dari negara penghasil minyak bakal membuat negara-negara seperti Cina atau Jepang menjual dollarnya dan beli euro.

Hegemoni Amerika pun dalam sekejap akan berantakan, sebab ini artinya sama saja dengan semua negara-negara pemegang dollar itu bilang: “Amerika sekarang kamu harus bayar utang!” Dan tentu saja bila dalam sekejap Amerika harus membayar hutangnya, dalam sekejap pula ekonomi Amerika bangkrut berantakan persis seperti saat bank dalam negeri kita di-rush oleh nasabahnya pada jaman krismon dulu. Lebih mengerikan lagi, dalam hitungan detik inflasi Amerika bakal mencapai ribuan persen (karena semua orang menjual dollar), perusahaan Amerika menjadi tidak ada harganya, dan ajaibnya lagi orang Amerika pun tiba-tiba jadi persis sama dengan orang-orang miskin karena mendadak saja semua kekayaan mereka bagai kertas tidak ada harganya. Lebih sial lagi, dengan bangkrutnya dollar praktis hanya Amerika yang akan bangkrut sendirian. Negara-negara lain tidak ikut bangkrut karena ada euro justru bisa menjadi penyelamatnya.

Jadi andai Anda adalah “pembenci” Amerika, maka segera lepaskan dollar Anda dan berganti ke mata uang lain. Alternatif yang bisa dipakai adalah euro. Atau, kembali ke sistem alat tukar versi Islam dahulu yaitu memakai dinar (emas) dan dirham (perak). Bagaimana??? Berani???

-Tema ini pernah dibahas oleh orang lain dan tulisan ini telah melalui mekanisme edit dengan bahasa versi saya

 

Mbah Sainem, Potret Kerasnya Kehidupan 30 May, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 5:47 pm
Tags:

Ini bukanlah cerita khayalan. Bukan pula fiksi. Namun ini adalah sebuah kenyataan seseorang demi menyambung hidupnya. Sebuah potret kerasnya kehidupan…

Pagi menjelang siang diiringi terik mentari yang mulai menyengat tubuh, seorang perempuan tua berjalan terseok-seok dengan barang bawaan yang lumayan banyak. Dia memanggul karung penuh pakaian dan koran bekas di punggungnya yang telah renta. Kedua tangannya pun menenteng tas berisi botol dan besi-besi bekas.

Mbah Sainem, demikian beliau biasa dipanggil, mengaku berasal dari Prambanan. Beliau hidup sebatang kara karena suaminya telah lama meninggal. Sedangkan satu-satunya putra yang ia miliki telah berkeluarga dan enggan mengurusnya. Namun di usianya yang hampir 70 tahun, ia tetap ingin menyambung hidup tanpa harus bergantung pada belas kasihan orang lain.

Pagi-pagi sekali ia naik bus menuju ke kota. Kemudian berkeliling door to door untuk memperoleh barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Barang-barang itu kemudian ia jual kembali di pasar loak. Dan menjelang senja, Mbah Sainem kembali ke rumah dengan membawa hasil yang tidak seberapa. Setelah dikurangi biaya naik bus, mungkin hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Setiap beberapa hari, Mbah Sainem selalu mampir ke tempat penulis untuk membeli barang-barang bekas. “Den, menawi wonten kertas-kertas, botol-botol, utawi kaleng-kaleng bekas, saged kula tumbas mboten?” (Tuan, kalau ada kertas-kertas, botol-botol, atau kaleng-kaleng bekas, bisa saya beli atau tidak?). Demikian teguran beliau tiap mendatangi rumah yang biasa ia datangi, termasuk rumah yang aku huni.

Ngobrol ngalor-ngidul dengan Mbah Sainem disela kesibukannya mengumpulkan barang bekas, memberikan keasyikan tersendiri bagiku. Sungguh seorang perempuan tua yang sederhana sekaligus bersahaja. Sisa usia yang telah senja tetap ia jalani tanpa sia-sia. Jarang ia mengeluhkan kehidupannya yang merana. Ia lebih suka berbicara tentang barang-barang bekas, daripada membicarakan kesusahannya.

Wah, botol-botol niki menawi dipun sade maleh nggih mirah sanget Den” (Wah, botol-botol ini kalau dijual kembali ya murah sekali Tuan), begitu ujarnya saat aku sodori beberapa botol sirup bekas. Cukup menggelikan. Mbah Sainem memanggilku “Den”. Sebenarnya aku risih mendengarnya, karena aku merasa bukan dari kalangan darah biru. Abdi dalem pun bukan. Malah lebih pas disebut rakyat jelata.

Yang lebih membuatku malu, justru Mbah Sainem lah yang berbicara dengan bahasa Jawa krama inggil. Suatu hal yang bila menurut unggah-ungguh Jawa wajib aku lakukan bila berbicara dengan orang yang lebih tua. Sebagai seorang Jawa tulen, seharusnya aku bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Namun lingkungan dan pergaulan metropolis sialan, telah mereduksi kejawaanku ini.

Melihat barang bawaan Mbah Sainem yang begitu banyak, timbul keinginanku untuk bertanya. “Bektanipun kok kathah sanget Mbah. Napa mboten kawratan?” (Bawaannya banyak sekali Mbah. Apa tidak berat?) Sambil tersenyum, beliau menjawab. “Abot nggih abot. Tapi kudu dientheng-enthengke. Nyambut damel golek pangan, mboten wonten sing mboten rekaos. Nggih mboten?” (Berat ya memang berat. Tapi harus dirasakan ringan. Bekerja mencari makan, tak ada yang tidak susah. Benar tidak?).

Benar-benar sebuah filosofi sederhana dari Mbah Sainem, namun memiliki kadar makna yang begitu tinggi. Di tengah jaman serba komersial ini, orang-orang menempuh segala cara demi materi. Seperti apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes, homo homini lupus belium omnium contra omnes. Manusia akan menjadi sekelompok serigala yang siap untuk saling mencabik satu sama lain. Apapun dilakukan untuk meraih ketenaran. Dari mengikuti kontes-kontes yang secara instan menjadikan seseorang terkenal, hingga “menjual goyangan” dengan asal memutar pinggang dan menunggingkan pantat kaya undur-undur diiringi lagu Cucakrowo berirama dugem atau Mbah Dukun versi koplo.

Tapi, orang seperti Mbah Sainem cukup puas dengan apa yang didapat tiap hari. Keinginannya tidaklah muluk-muluk. Asal mendapat rejeki yang halal dan bisa makan setiap hari, ia sudah sangat bersyukur. Beda dengan kehidupan yang serba materialistis. Satu kebutuhan tercukupi, masih saja meminta yang lain. Istilahnya, diwenehi ati kok isih ngrogoh rempelo.

Kerasnya kehidupan tidak hanya akan dirasakan oleh Mbah Sainem saja. Namun badai dan gelombang kehidupan pasti akan menghadang kita juga. Dan sosok Mbah Sainem patut menjadi teladan bagi kita dalam mengarungi samudera kehidupan. Narima ing pandum, tapi tidak pasif. Bersahaja, sederhana, namun tak pernah putus asa…

 

SLT II, Akankah Efektif ? 28 May, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 6:41 pm
Tags:

Terhitung sejak tanggal 2 Januari 2006, rakyat yang tergolong miskin di Indonesia kembali memperoleh kucuran Subsidi Langsung Tunai (SLT) tahap II dari pemerintah melalui PKPS BBM. Kita tentu masih ingat pembagian SLT tahap I yang penuh tragedi. Sejak kebijakan ini berjalan, berbagai persoalan sosial muncul silih berganti. Jatuhnya korban tewas ikut mewarnai lembaran kelam kisah pembagian SLT. Selain itu, entah berapa banyak ketua RT/RW, maupun Kepala Dukuh dan Lurah, yang dimusuhi oleh warganya sendiri. Kecemburuan sosial bertambah karena banyak yang tidak kebagian jatah.

Melihat pembagian SLT tahap I yang sarat persoalan dan tragedi, pemerintah seharusnya mengevaluasi kebijakan pemberian dana tunai ini tidak melihat hanya pada satu sisi ekonomi saja. Unsur sosial dan budaya pun sangat mempengaruhi apakah pemberian subsidi tunai ini akan efektif dan tepat sasaran.

Dilihat dari kacamata ekonomi, pemberian bantuan tunai kepada rakyat miskin akan memang menaikkan pendapatan mereka terutama untuk konsumsi rumah tangga. Singkatnya, tingkat kesejahteraan keluarga miskin akan terangkat. Sayangnya, kebijakan bantuan tunai ini tidak akan mampu mengentaskan jutaan keluarga dari kubangan kemiskinan. Bahkan sekedar untuk menutup kerugian materiil rakyat akibat kenaikan BBM, jumlah tersebut masih belum cukup. Kerugian secara sosial psikologis jauh lebih besar daripada kerugian ekonomi.

Tanpa bermaksud mencela kebijakan pemerintah tersebut, ternyata pembagian SLT justru akan membuat rakyat menjadi manja. Selain masalah sosial yang semakin menjadi-jadi, penderitaan rakyat pun tidak akan selesai hanya dengan pemberian uang tunai. Pemerintah layaknya memberi ikan segar kepada rakyatnya. Maka suatu waktu ikan tersebut akan habis, mereka tidak tahu bagaimana mendapatkannya lagi. Mental rakyat akan terbentuk seperti kucing, terus mengeong menunggu pemberian “ikan SLT” berikutnya.

Selain itu pemberian SLT dipukul rata pada semua kepala keluarga miskin tanpa memandang apakah sebenarnya mereka produktif atau tidak. Bagi mereka yang sudah tidak produktif dan tidak mampu lagi bekerja entah karena usia ataupun lumpuh fisik, bantuan tersebut sangat berguna untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka yang tidak bisa tercukupi. Namun bagi mereka yang sebenarnya masih mampu bekerja, bantuan ini sungguh tidak adil. Orang yang malas ataupun tidak, sama-sama memperoleh uang yang sama tanpa bekerja.

Maka solusi padat karya pun layak dimunculkan ke permukaan untuk mengganti kebijakan pemberian SLT. Bagi rakyat miskin yang masih produktif namun tidak memperoleh pekerjaan layak dan mencukupi, dapat diberdayakan untuk bekerja. Bisa membangun jalan, saluran irigasi, atau infrastruktur umum lainnya yang nantinya juga akan bermanfaat bagi rakyat. Bisa pula dipekerjakan di lahan-lahan milik negara untuk kembali menggairahkan sektor pertanian dan perkebunan yang kini tengah lesu.

Dengan padat karya ini, masyarakat yang giat bekerja tentu saja akan memperoleh hasil lebih daripada yang malas. Mereka pun akan memakai uang tersebut secara lebih-hati-hati karena diperoleh melalui perasan keringatnya sendiri. Selain itu, padat karya akan memacu masyarakat untuk produktif dan giat bekerja. Sedangkan bagi mereka yang tidak mampu bekerja, tentu subsidi tunai atau dalam bentuk kebutuhan pokok berkala masih menjadi solusi terbaik.

Akan tetapi pemerintah ternyata masih menempuh jalan pembagian SLT untuk “menutup” kerugian materiil rakyat akibat kenaikan BBM. Dana trilyunan rupiah ini sebenarnya bisa dipakai untuk menggairahkan berbagai sektor usaha, terutama usaha kecil dan mikro. Dapat pula membentuk SDM berkualitas lewat pendidikan yang murah. Atau yang paling realistis adalah membuka lapangan kerja bagi puluhan juta pengangguran di Indonesia. Bukankah akar permasalahan kemiskinan di Indonesia disebabkan minimnya kesempatan berusaha, kurangnya lapangan kerja, dan rendahnya kualitas SDM?

Meski demikian, kita harus tetap percaya bahwa pemerintah pasti telah memperhitungkan cost and benefit pemberian SLT tahap II secara rasional, tidak dari sudut pandang ekonomi saja. Hanya saja, kita tidak boleh diam berpangku tangan bila melihat ada keganjilan atau persoalan dalam pembagian dana tunai ini. Kita harus tetap proaktif, kritis sekaligus solutif dalam menyikapi kebijakan pemerintah. Dan kini, kita menanti jawaban apakah SLT II akan menjadi kado tahun baru atau justru sebaliknya menjadi awal cerita kelabu bagi rakyat miskin di Indonesia…

Tulisan ini pernah terbit di harian Kedaulatan Rakyat, 5 Januari 2006