Ini bukanlah cerita khayalan. Bukan pula fiksi. Namun ini adalah sebuah kenyataan seseorang demi menyambung hidupnya. Sebuah potret kerasnya kehidupan…
Pagi menjelang siang diiringi terik mentari yang mulai menyengat tubuh, seorang perempuan tua berjalan terseok-seok dengan barang bawaan yang lumayan banyak. Dia memanggul karung penuh pakaian dan koran bekas di punggungnya yang telah renta. Kedua tangannya pun menenteng tas berisi botol dan besi-besi bekas.
Mbah Sainem, demikian beliau biasa dipanggil, mengaku berasal dari Prambanan. Beliau hidup sebatang kara karena suaminya telah lama meninggal. Sedangkan satu-satunya putra yang ia miliki telah berkeluarga dan enggan mengurusnya. Namun di usianya yang hampir 70 tahun, ia tetap ingin menyambung hidup tanpa harus bergantung pada belas kasihan orang lain.
Pagi-pagi sekali ia naik bus menuju ke kota. Kemudian berkeliling door to door untuk memperoleh barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Barang-barang itu kemudian ia jual kembali di pasar loak. Dan menjelang senja, Mbah Sainem kembali ke rumah dengan membawa hasil yang tidak seberapa. Setelah dikurangi biaya naik bus, mungkin hanya cukup untuk makan sehari-hari.
Setiap beberapa hari, Mbah Sainem selalu mampir ke tempat penulis untuk membeli barang-barang bekas. “Den, menawi wonten kertas-kertas, botol-botol, utawi kaleng-kaleng bekas, saged kula tumbas mboten?” (Tuan, kalau ada kertas-kertas, botol-botol, atau kaleng-kaleng bekas, bisa saya beli atau tidak?). Demikian teguran beliau tiap mendatangi rumah yang biasa ia datangi, termasuk rumah yang aku huni.
Ngobrol ngalor-ngidul dengan Mbah Sainem disela kesibukannya mengumpulkan barang bekas, memberikan keasyikan tersendiri bagiku. Sungguh seorang perempuan tua yang sederhana sekaligus bersahaja. Sisa usia yang telah senja tetap ia jalani tanpa sia-sia. Jarang ia mengeluhkan kehidupannya yang merana. Ia lebih suka berbicara tentang barang-barang bekas, daripada membicarakan kesusahannya.
“Wah, botol-botol niki menawi dipun sade maleh nggih mirah sanget Den” (Wah, botol-botol ini kalau dijual kembali ya murah sekali Tuan), begitu ujarnya saat aku sodori beberapa botol sirup bekas. Cukup menggelikan. Mbah Sainem memanggilku “Den”. Sebenarnya aku risih mendengarnya, karena aku merasa bukan dari kalangan darah biru. Abdi dalem pun bukan. Malah lebih pas disebut rakyat jelata.
Yang lebih membuatku malu, justru Mbah Sainem lah yang berbicara dengan bahasa Jawa krama inggil. Suatu hal yang bila menurut unggah-ungguh Jawa wajib aku lakukan bila berbicara dengan orang yang lebih tua. Sebagai seorang Jawa tulen, seharusnya aku bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Namun lingkungan dan pergaulan metropolis sialan, telah mereduksi kejawaanku ini.
Melihat barang bawaan Mbah Sainem yang begitu banyak, timbul keinginanku untuk bertanya. “Bektanipun kok kathah sanget Mbah. Napa mboten kawratan?” (Bawaannya banyak sekali Mbah. Apa tidak berat?) Sambil tersenyum, beliau menjawab. “Abot nggih abot. Tapi kudu dientheng-enthengke. Nyambut damel golek pangan, mboten wonten sing mboten rekaos. Nggih mboten?” (Berat ya memang berat. Tapi harus dirasakan ringan. Bekerja mencari makan, tak ada yang tidak susah. Benar tidak?).
Benar-benar sebuah filosofi sederhana dari Mbah Sainem, namun memiliki kadar makna yang begitu tinggi. Di tengah jaman serba komersial ini, orang-orang menempuh segala cara demi materi. Seperti apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes, homo homini lupus belium omnium contra omnes. Manusia akan menjadi sekelompok serigala yang siap untuk saling mencabik satu sama lain. Apapun dilakukan untuk meraih ketenaran. Dari mengikuti kontes-kontes yang secara instan menjadikan seseorang terkenal, hingga “menjual goyangan” dengan asal memutar pinggang dan menunggingkan pantat kaya undur-undur diiringi lagu Cucakrowo berirama dugem atau Mbah Dukun versi koplo.
Tapi, orang seperti Mbah Sainem cukup puas dengan apa yang didapat tiap hari. Keinginannya tidaklah muluk-muluk. Asal mendapat rejeki yang halal dan bisa makan setiap hari, ia sudah sangat bersyukur. Beda dengan kehidupan yang serba materialistis. Satu kebutuhan tercukupi, masih saja meminta yang lain. Istilahnya, diwenehi ati kok isih ngrogoh rempelo.
Kerasnya kehidupan tidak hanya akan dirasakan oleh Mbah Sainem saja. Namun badai dan gelombang kehidupan pasti akan menghadang kita juga. Dan sosok Mbah Sainem patut menjadi teladan bagi kita dalam mengarungi samudera kehidupan. Narima ing pandum, tapi tidak pasif. Bersahaja, sederhana, namun tak pernah putus asa…