E U R E K A

Hanya sedikit dari sekian banyak hal yang ingin aku tulis….

Selamat Ulang Tahun Bunda 22 July, 2008

Filed under: Diriku — saputrairfan @ 12:57 pm
Tags:

Kubuka album biru
Penuh debu dan usang
Ku pandangi semua gambar diri
Kecil bersih belum ternoda

Pikirkupun melayang
Dahulu penuh kasih
Teringat semua cerita orang
Tentang riwayatku

Kata mereka diriku slalu dimanja
Kata mereka diriku slalu ditimang

Nada nada yang indah
Slalu terurai darinya
Tangisan nakal dari bibirku
Takkan jadi deritanya

Tangan halus dan suci
Tlah mengangkat diri ini
Jiwa raga dan seluruh hidup
Rela dia berikan

Oh bunda ada dan tiada dirimu
Kan slalu ada di dalam hatiku

(Bunda by Melly Goeslaw)

Selamat ulang tahun Bunda. Maafkan aku tak bisa datang menemani, mencium tanganmu, bersimpuh dikakimu untuk mengucap terima kasih atas segala yang telah kau berikan kepadamu. Hanya ada secuil kado yang dapat aku kirimkan dan doa yang selalu aku panjatkan untukmu di tiap shalatku. Semoga engkau selalu bahagia…

 

Rindu Pemimpin Seperti Hatta 2 July, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 5:36 pm
Tags:

Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta…
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia…

Sore hari waktu sedang lembur, saya mendengarkan lagu yang didendangkan oleh Iwan Fals ini. Alunan lagu dengan nada mendayu-dayu ini mampu membuat saya merinding trenyuh. Rindu akan ketokohan seorang Muhammad Hatta untuk mengentaskan persoalan negeri yang sedang carut-marut ini.

 

Teringat sebuah cerita yang sangat mengharukan, namun sarat keteladanan tinggi dari seorang pemimpin bernama Hatta ini. Pada tahun 1950-an, Bally adalah sebuah merek sepatu yang bermutu tinggi dan tentu tidak murah (mungkin jaman sekarang setaraf Nike atau Reebok yaa…??). Bung Hatta yang waktu itu menjabat sebagai Wakil Presiden RI, berminat pada sepatu ini. Ia kemudian menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya, selalu berusaha menabung agar bisa membeli sepatu idaman tersebut.

 

Namun,tabungannya tak pernah cukup karena selalu terpakai untuk kebutuhan rumah tangga atau untuk membantu kerabat yang datang kepadanya untuk meminta pertolongan. Hingga tutup usia pada tanggal 14 Maret 1980, sepatu Bally idaman beliau tidak pernah terbeli. Guntingan iklan sepatu Bally itu hingga Bung Hatta wafat masih tersimpan dan menjadi saksi keinginan sederhana dari seorang Hatta.

 

Jika ingin memanfaatkan posisinya waktu itu, sebenarnya sangatlah mudah bagi Bung Hatta untuk memperoleh sepatu Bally. Tapi cara itu sama sekali tidak dilakukan oleh Bung Hatta. Andai saya yang berposisi seperti Bung Hatta, pastilah saya akan menghubungi Dubes untuk minta “oleh-oleh” sepatu itu.

 

Sebuah politik sederhana nan bersih dari seorang Hatta adalah tidak pernah mau menggunakan jabatannya untuk kepentingan pribadi, termasuk dalam urusan rahasia negara. Ketika pemerintahan Soekarno menerapkan kebijakan sanering (pemotongan nilai uang) dari Rp100 menjadi Rp1, Hatta tidak membocorkan hal itu, sekalipun kepada keluarganya sendiri. Beliau berprinsip,rahasia negara tidak boleh diberitahukan kepada siapa pun.

 

Pemimpin Indonesia saat ini, mana ada yang seperti itu…? Andaikan ada, jarang sekali dia benar-benar istiqomah memegang teguh prinsipnya. Apalagi tadi pagi saya mendengar berita penangkapan anggota DPR karena dugaan korupsi. Naudzubillah… setelah santer berita penyuapan di kejaksaan, lembaga sekaliber DPR yang notabene berisi wakil-wakil yang dipercaya rakyat untuk membuat kebijakan penentu nasib bangsa ini. Mau jadi apa bangsa ini bila pemimpinnya saja bejat seperti itu (maaf bila kalimatnya terlalu keras, karena ini adalah sebuah ungkapan geram yang amat sangat).

 

Ah… andai pemimpin kita saat ini seperti Bung Hatta yang memiliki sikap mendahulukan orang lain, sikap menahan diri dari meminta hibah, bersahaja, dan membatasi konsumsi pada kemampuan yang ada. Kalau belum mampu, harus berdisiplin dengan tidak berutang atau bergantung pada orang lain. Seandainya para pemimpin kita tidak maling, tidak mungkin bangsa dengan sumber alam yang melimpah ini menjadi bangsa terbelakang, melarat, dan nista karena tradisi berutang dan meminta sedekah dari orang asing (menangis dalam hati…)

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi…
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu…
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas… jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu…

(Bung Hatta – Iwan Fals)

 

Ponsel Pengaruhi Kualitas Sperma 2 July, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 3:02 pm
Tags:

Anda pengguna aktif ponsel ? Ada riset menarik mengenai dampak negatif dari radiasi telepon selular yang kembali mendapat sorotan. Kali ini, sebuah riset mengklaim penggunaan ponsel yang berlebihan dapat mempengaruhi kualitas sperma.

Kaitan penggunaan ponsel dan kualitas sperma diungkap oleh para ahli melalui riset pendahuluan di Cleveland Clinic, Amerika Serikat. Dengan melibatkan 361pasien klinik, peneliti menemukan bahwa semakin lama pria menggunakan ponsel setiap hari, semakin menurun jumlah sel sperma dan semakin besar pula prosentase jumlah sperma abnormal. Nah lo…

Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Fertility and Sterility ini merupakan fakta lain yang mempertanyakan dampak potensial penggunaan ponsel atau alat-alat nirkabel terhadap kesehatan. Beberapa riset sebelumnya kerap menghubungkan radiasi ponsel dengan timbulnya gangguan kesehatan seperti penyakit susah tidur atau tumor otak.

Yang menjadi kekhawatiran selama ini adalah energi gelombang elektromagnetik yang dipancarkan ponsel secara teoretis dapat mempengaruhi sel-sel tubuh. Apalagi juga digunakan dalam waktu lama, ponsel dikhawatirkan mengganggu jaringan dengan cara merusak DNA.

Tetapi temuan para ahli di Cleveland ini tidak memberikan bukti bahwa radiasi ponsel dapat merusak sperma. “Hasil penelitian kami menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara penggunaan ponsel dengan penurunan kualitas semen. Namun begitu, ini tidak membuktikan adanya hubungan sebab akibat,” ungkap pimpinan riset, Dr Ashok Agarwal.

Dalam penelitiannya, Agarwal beserta tim meneliti sampel semen dari 361 pria yang mengunjungi klinik infertilitas selama sekitar setahun. Peneliti juga mengadakan semacam kuisioner kepada seluruh partisipan untuk menanyakan soal kebiasaan menggunakan ponsel.

Secara umum, peneliti menemukan bahwa jumlah dan kualitas sel sperma cenderung menurun seiring meningkatnya jumlah waktu penggunaan ponsel. Pria yang dalam kuisioner mengaku menggunakan ponsel rata-rata empat jam sehari tercatat memiliki rata-rata jumlah sel sperma terendah serta jumlah sel normal / aktif terendah.

“Kami mengasumsikan dari hasil penelitian ini bahwa penggunan ponsel yang berlebihan berhubungan dengan rendahnya kualitas semen,” kata Agarwal. Tetapi apakah ponsel dapat secara langsung mempengaruhi kesuburan pria masih belum jelas.

Agarwal mengatakan, timnya juga saat ini tengah melakukan dua riset lanjutan untuk mempertegas asumsi tersebut. Pada riset pertama, peneliti menyinari sampel semen dengan radiasi elektromagnetik dari ponsel untuk melihat dan mengetahui dampak apa yang akan terjadi.

Sedangkan pada riset kedua, peneliti akan meneruskan riset awal dengan melibatkan jumlah pria yang lebih banyak. Menurut Agarwal, riset ini juga akan memperhitungkan faktor lain yang akan mempengaruhi seperti gaya hidup serta risiko yang berhubungan dengan pekerjaan yang dapat mempengaruhi kualitas sperma.

Jadi patut kita tunggu riset selanjutnya dari peneliti-peneliti jenius itu. Yuks…

sumber: kompas

 

Kopi Bikin Sperma Seperti ‘Rudal’ 28 June, 2008

Filed under: Kerja — saputrairfan @ 9:57 pm
Tags:

Bagi sebagian orang, minum kopi memang mujarab untuk mengusir kantuk atau sebagai sarana bersosialisasi dan bersantai. Namun kopi ternyata bisa membuat pria tampil bagaikan Arjuna di kisah pewayangan, yang mampu membuat perempuan berada di awang-awang.

Penelitian Universitas Sao Paulo, Brasil, menemukan fakta kehadiran kafein mampu merangsang sel-sel sperma melesat bagaikan sebuah rudal. Selain itu juga mendongkrak kesuburan seorang pria. Seorang pria penggemar kopi yang beristrikan seorang perempuan, kecil peluang sukses dalam mendukung program ‘Keluarga Berencana’. Soalnya pria penggemar kopi secara ilmiah memiliki sperma cespleng.

“Sekali tersembur saat berhubungan intim, maka jaminan kesuksesan membuahi sel telur pasangannya secara ilmiah 95:5,” kata dr Rodrigo Gonzales, peneliti dampak kopi atas kesuburan pria dari Universitas Sao Paulo.

Hasil penelitian ini tercatat dalam jurnal hasil konferensi American Society for Reproductive Medicine, di San Antonio. Ini berdasarkan sampel terhadap 750 pria calon peserta vasektomi yang dibagi dalam empat kelompok, yakni kelompok tak minum kopi, kelompok peminum kopi ringan (antara 1-3 cangkir kopi/hari, kelompok peminum sedang (antara 4-6 cangkir kopi/hari, dan terakhir kelompok peminum kopi berat (lebih dari enam cangkir per hari).

Penelitian dilakukan dengan menggunakan ukuran skala cangkir dengan volume 100 ml. Setelah melakukan penelitian dalam kurun waktu sekitar tiga bulan, ternyata menghasilkan kesimpulan bahwa pria yang setiap hari rutin mengkonsumsi kopi memiliki kualitas sperma jauh lebih sehat dibanding yang tak mengkonsumsi kopi.

Ini karena kafein dalam kopi memiliki kemampuan merangsang kecepatan berenang sel sperma. Selain itu, memiliki kemampuan lain membantu memperbaiki sampel sperma dalam proses IVF (in-vitro fertilisation) atau proses pembuahan di luar rahim.

Hasil penelitian serupa juga dilakuan sebuah tim di State University of New York, Buffalo. Namun sampel penelitian yang dilakukan berbeda, yaitu membentuk dua kelompok sampel yang masing-masing terdiri dari 75 pria. Masing-masing kelompok dicekoki konsumsi kopi yang berbeda dalam waktu sekitar empat bulan. Kelompok satu diwajibkan meminum kopi secara rutin, sementara kelompok lainnya dilarang minum kopi dan disarankan menghisap ganja secara rutin.

Hasil penelitan ternyata para pria peminum kopi memiliki sperma yang memiliki daya tahan cukup lama, pergerakannya lebih gesit, dan kandungan kesuburan sperma sangat tinggi. Selain itu para peminum kopi tak memiliki keluhan terhadap kualitas kejantanan mereka. Cukup dengan memandang, langsung greng dan siap tempur.

Sebaliknya yang menimpa para sampel pengisap ganja ternyata melahirkan catatan keluhan psikologis bervariasi. Misalnya, hilangnya kualitas libido mereka sebagai seorang pria. Kalaupun siap tempur tapi kualitasnya tidak 100%. Selain itu kandungan kesuburan sel sperma mengalami kemerosotan signifikan. Demikian pula kegesitan sel sperma mereka dalam berenang dan daya tahan hidup sel sperma dalam ph basah cairan yang ada pada lorong ovarium kaum perempuan.

Secara ilmiah tidak perlu lagi gelisah dan merana. Para suami diminta melakukan cofee morning secara rutin. Bahkan kalau bisa dalam sehari meminum kopi sampai empat gelas dengan volume rata-rata 100 ml tiap gelas.

dari: www.komunitasfilmpendek.org

 

Bangkit Itu… 30 May, 2008

Filed under: Kata — saputrairfan @ 6:30 pm
Tags:

Aku ingin menampilkan sebuah inspired words. Pasti semua pernah mendengar dan melihatnya dari layar TV.

Bangkit itu susah…susah melihat orang lain susah…senang melihat orang lain senang
Bangkit itu takut…takut korupsi…takut makan yang bukan haknya
Bangkit itu mencuri…mencuri perhatian dunia dengan prestasi
Bangkit itu marah…marah bila martabat bangsa dilecehkan
Bangkit itu malu…malu jadi benalu…malu karna minta melulu
Bangkit itu tidak ada.. tidak ada kata menyerah.. tidak ada kata putus asa
Bangkit itu aku…untuk Indonesiaku.

Deddy Mizwar (Mei 2008 – 100 tahun Hari Kebangkitan Nasional)

 

Mbah Sainem, Potret Kerasnya Kehidupan 30 May, 2008

Filed under: Uneg-uneg — saputrairfan @ 5:47 pm
Tags:

Ini bukanlah cerita khayalan. Bukan pula fiksi. Namun ini adalah sebuah kenyataan seseorang demi menyambung hidupnya. Sebuah potret kerasnya kehidupan…

Pagi menjelang siang diiringi terik mentari yang mulai menyengat tubuh, seorang perempuan tua berjalan terseok-seok dengan barang bawaan yang lumayan banyak. Dia memanggul karung penuh pakaian dan koran bekas di punggungnya yang telah renta. Kedua tangannya pun menenteng tas berisi botol dan besi-besi bekas.

Mbah Sainem, demikian beliau biasa dipanggil, mengaku berasal dari Prambanan. Beliau hidup sebatang kara karena suaminya telah lama meninggal. Sedangkan satu-satunya putra yang ia miliki telah berkeluarga dan enggan mengurusnya. Namun di usianya yang hampir 70 tahun, ia tetap ingin menyambung hidup tanpa harus bergantung pada belas kasihan orang lain.

Pagi-pagi sekali ia naik bus menuju ke kota. Kemudian berkeliling door to door untuk memperoleh barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai. Barang-barang itu kemudian ia jual kembali di pasar loak. Dan menjelang senja, Mbah Sainem kembali ke rumah dengan membawa hasil yang tidak seberapa. Setelah dikurangi biaya naik bus, mungkin hanya cukup untuk makan sehari-hari.

Setiap beberapa hari, Mbah Sainem selalu mampir ke tempat penulis untuk membeli barang-barang bekas. “Den, menawi wonten kertas-kertas, botol-botol, utawi kaleng-kaleng bekas, saged kula tumbas mboten?” (Tuan, kalau ada kertas-kertas, botol-botol, atau kaleng-kaleng bekas, bisa saya beli atau tidak?). Demikian teguran beliau tiap mendatangi rumah yang biasa ia datangi, termasuk rumah yang aku huni.

Ngobrol ngalor-ngidul dengan Mbah Sainem disela kesibukannya mengumpulkan barang bekas, memberikan keasyikan tersendiri bagiku. Sungguh seorang perempuan tua yang sederhana sekaligus bersahaja. Sisa usia yang telah senja tetap ia jalani tanpa sia-sia. Jarang ia mengeluhkan kehidupannya yang merana. Ia lebih suka berbicara tentang barang-barang bekas, daripada membicarakan kesusahannya.

Wah, botol-botol niki menawi dipun sade maleh nggih mirah sanget Den” (Wah, botol-botol ini kalau dijual kembali ya murah sekali Tuan), begitu ujarnya saat aku sodori beberapa botol sirup bekas. Cukup menggelikan. Mbah Sainem memanggilku “Den”. Sebenarnya aku risih mendengarnya, karena aku merasa bukan dari kalangan darah biru. Abdi dalem pun bukan. Malah lebih pas disebut rakyat jelata.

Yang lebih membuatku malu, justru Mbah Sainem lah yang berbicara dengan bahasa Jawa krama inggil. Suatu hal yang bila menurut unggah-ungguh Jawa wajib aku lakukan bila berbicara dengan orang yang lebih tua. Sebagai seorang Jawa tulen, seharusnya aku bisa berbahasa Jawa dengan baik dan benar. Namun lingkungan dan pergaulan metropolis sialan, telah mereduksi kejawaanku ini.

Melihat barang bawaan Mbah Sainem yang begitu banyak, timbul keinginanku untuk bertanya. “Bektanipun kok kathah sanget Mbah. Napa mboten kawratan?” (Bawaannya banyak sekali Mbah. Apa tidak berat?) Sambil tersenyum, beliau menjawab. “Abot nggih abot. Tapi kudu dientheng-enthengke. Nyambut damel golek pangan, mboten wonten sing mboten rekaos. Nggih mboten?” (Berat ya memang berat. Tapi harus dirasakan ringan. Bekerja mencari makan, tak ada yang tidak susah. Benar tidak?).

Benar-benar sebuah filosofi sederhana dari Mbah Sainem, namun memiliki kadar makna yang begitu tinggi. Di tengah jaman serba komersial ini, orang-orang menempuh segala cara demi materi. Seperti apa yang dikatakan oleh Thomas Hobbes, homo homini lupus belium omnium contra omnes. Manusia akan menjadi sekelompok serigala yang siap untuk saling mencabik satu sama lain. Apapun dilakukan untuk meraih ketenaran. Dari mengikuti kontes-kontes yang secara instan menjadikan seseorang terkenal, hingga “menjual goyangan” dengan asal memutar pinggang dan menunggingkan pantat kaya undur-undur diiringi lagu Cucakrowo berirama dugem atau Mbah Dukun versi koplo.

Tapi, orang seperti Mbah Sainem cukup puas dengan apa yang didapat tiap hari. Keinginannya tidaklah muluk-muluk. Asal mendapat rejeki yang halal dan bisa makan setiap hari, ia sudah sangat bersyukur. Beda dengan kehidupan yang serba materialistis. Satu kebutuhan tercukupi, masih saja meminta yang lain. Istilahnya, diwenehi ati kok isih ngrogoh rempelo.

Kerasnya kehidupan tidak hanya akan dirasakan oleh Mbah Sainem saja. Namun badai dan gelombang kehidupan pasti akan menghadang kita juga. Dan sosok Mbah Sainem patut menjadi teladan bagi kita dalam mengarungi samudera kehidupan. Narima ing pandum, tapi tidak pasif. Bersahaja, sederhana, namun tak pernah putus asa…

 

Hari Berterima Kasih Untuk Bunda 20 May, 2008

Filed under: Diriku — saputrairfan @ 11:53 am
Tags:

24 tahun yang lalu ada seorang wanita tangguh yang berjuang bertaruh nyawa demi melahirkan bayinya. Bayi itupun lahir dengan selamat. Yups, bayi laki-laki yang lucu. Wanita itu begitu bahagia mengetahui putranya lahir dengan sehat dan lengkap, sehingga lenyap semua rasa sakit dan lelahnya. Tangisan keras si jabang bayi mampu memecah kesunyian waktu Subuh. Kumandang adzan mengiringi kelahiran sang bayi, disambut tangis bahagia sang bunda dan sang ayah.

Wanita itu tak lain tak bukan adalah Bundaku. Salah satu wanita paling bepengaruh dalam hidupku, hidup sang jabang bayi yang beliau perjuangkan mati-matian 24 tahun lalu. Tanpa beliau, aku bukanlah apa-apa. Beliau lah yang selalu ada dalam setiap episode cerita hidupku. Beliau pula lah yang mungkin satu-satunya wanita yang sudi menitikkan air mata demi aku. Bunda menangis bahagia di kala aku suka, dan menangis sedih di kala aku berduka. Tak ada yang lain.

Kini, 24 tahun sudah berlalu. Meski secara fisik beliau telah renta, mata kian sayu, dan wajah pun telah mulai berkeriput, namun bagiku Bunda adalah wanita tertangguh di dunia. Wanita paling berjasa dalam hidupku.

Hari ini, kawan-kawanku mengucapkan selamat atas ulang tahunku. Tapi aku merasa, ucapan selamat itu lebih pantas disematkan kepada Bunda. Berkat perjuangan beliau 24 tahun yang lalu, aku bisa menghembuskan nafas didunia ini. Awal aku bisa melangkah di atas tanah, menatap langit biru, dan melakoni sandiwara kehidupan yang penuh liku-liku.

Matur nuwun Bunda. Ingin aku bersimpuh di kakimu. Sembah sungkem putramu ini dari jauh..