E U R E K A

Hanya sedikit dari sekian banyak hal yang ingin aku tulis….

TK-ku Sudah Tidak Ada (3-habis) 13 May, 2008

Filed under: Diriku — saputrairfan @ 1:09 pm
Tags:

Prestasiku di TK tentu saja sudah bisa ditebak. Sungguh minim. Bayangkan lomba-lomba yang diadakan untuk ukuran anak TK lebih kepada sesuatu yang berbau seni. Diantaranya melukis/mewarnai, prakarya, hingga kostum Kartini-an. Sejak kecil aku bukanlah ahli melukis. Lukisan yang bisa aku buat ketika masih TK benar-benar standar anak-anak. Dua buah gunung dengan matahari diantara dua gunung itu, ditambah dengan jalan menikung dari ujung kiri hingga ujung kanan, kemudian ada rumah, sawah, pohon kelapa, dan tak lupa awan dan burung. Tak ada unsur uniqueness karya seorang maestro lukis. Bahkan untuk melukis orang pun aku tak bisa.

Prakarya…??? Justru lebih payah. Permainan tanah liat pun aku buat patung abstrak (yang hingga kini aku tak tahu benda apa yang aku buat waktu itu), permainan puzzle kayu pun tak pernah berhasil biarpun sudah aku coba puluhan kali, apalagi menganyam. Super duper parah… Aku hanya mampu membuat rantai dari kertas warna terpanjang di kelas. Itupun dengan cara licik mensabotase karya Ipung dan Aan dengan diam-dian aku injak rantainya yang faktanya lebih panjang dari punyaku. Hahaha, sabotase tingkat tinggi oleh seorang anak TK.

Lomba kostum Kartini adalah lomba yang paling aku benci. Waktu masih kecil pun aku sudah menyadari betapa tidak modelable_nya diriku ini. Kata lain, memakai baju apapun tidak eye catching. Namun aku tak pernah menyalahkan faktor genetik, apalagi orang tua. Allah menciptakan aku dengan bentuk dan muka seaneh ini, pasti ada maksudnya (menghibur diri lah). Apalagi bila harus bersaing dengan teman-teman yang rata-rata memakai kostum mahal yang tentu saja orang tua mereka mampu membelikannya. Ada yang memakai kostum pelaut, tentara, polisi, hingga surjan Jawa. Dan yang perempuan (terutama Ida) begitu aduhai dengan balutan pakaian adat Jawa dengan sanggul di kepalanya dan make up tebal di mukanya hingga aku kira lebih mirip memakai dempul. Sedangkan kostum Kartinian yang aku pakai pun seadanya. Paling banter bergaya melayu dengan celana panjang, baju koko, peci, di padu dengan sarung selutut. Aku pun kian tampak aneh…

Prestasi yang bisa aku banggakan hanya berupa prestasi informal. Juara lomba makan kerupuk, lomba lari kelereng, serta anak yang paling tinggi mampu memanjat pohon rambutan yang ada di kebun belakang sekolah. Bagi teman-teman dan guruku, mungkin bukanlah prestasi berharga. Namun bagiku, itu adalah sebuah kebanggaan. Bukankah ketrampilan dan keahlian tiap orang itu berbeda-beda? Biarpun tampak konyol dan bodoh di satu bidang, namun anak sekecil aku waktu itu memiliki bakat lain yang mungkin hanya segelintir anak yang punya. Yups… seperti kancil yang licik, aku mampu mengendalikan dan memperdaya beberapa temanku untuk mau menjadi semacam “anak buah”. Hal yang diluar dugaan untuk anak sekecil aku, sudah mampu menjadi kepala geng di TK. Bukankah itu prestasi yang membanggakan…??

Masa TK sungguh luar biasa. Awal aku mengenal dunia luar. Starting point bagiku untuk menapak dan menatap dunia lebih jauh. Begitu mengagumkan…

 

TK-ku Sudah Tidak Ada (2) 12 May, 2008

Filed under: Diriku — saputrairfan @ 1:19 pm
Tags:

Teman-teman TK??? Tampaknya sebagian orang sudah lupa dengan teman-teman TK. Apalagi masa TK begitu singkat dan mungkin tidak terlalu berkesan. Namun lain bagiku, masa TK adalah awal dari perkenalanku dengan dunia luar. Hari-hari yang biasanya hanya dilalui di rumah atau paling jauh di halaman, kali ini mulai berubah. Aktivitas sekolah (meskipun lebih sekedar “hanya” bermain) menjadi rutinitas baru yang begitu berkesan. Kesan ini tidak muncul begitu saja. Apalagi kalau bukan karena teman-teman, Ibu Guru, dan Bapak Penjaga Kebun TK.

Beberapa teman yang paling aku ingat tidak terlalu banyak. Yoga, anak dengan badan paling bongsor sekaligus paling nakal di sekolah. Aku pernah berkelahi dengan dia hanya gara-gara berebut bangku. Tentu saja aku kalah, karena ditindih dan dikunci ala gulat smack down dengan badan besarnya. Senjata pamungkas bagi anak balita pun aku keluarkan. Menangis sekeras-kerasnya, lantas mengadu ke Ibu Guru. Yups, berkelahi boleh kalah tapi aku menang licik. Saat Yoga dimarahi dan dijewer oleh Ibu Guru, tawa kemenanganku pun berkumandang dalam hati. Jahat memang…

Ida, wanita tercantik nomer dua di TK SPG Negeri 2 (menurutku saat itu wanita tercantik di TK adalah Ibu Suwarni, guruku yang paling baik). Ida adalah cinta pertamaku. Bocah sekecil aku waktu itu pun sudah mengerti cinta. Meskipun hingga kini cinta itu bertepuk sebelah tangan, tapi tak apalah. Kadang cinta memang tidak harus memiliki. Bayangkan, betapa perih penderitaan cinta yang diderita anak sekecil itu. Aku mulai memahami bahwa penderitaan cinta memang tak memandang usia.

Berturut-turut ada Ipung dan Asep. Dua teman sekaligus pengikut setiaku dalam berburu bekicot dan capung di kebun belakang sekolah. Sari, anak perempuan yang paling sering aku jahilin. Apalagi tiap senam pagi di hari Jumat, aku tak pernah absen menjadi aktor utama kejahatan kelas kakap untuk ukuran anak TK. Menyembunyikan baju ganti dan sepatu kulit berwarna merah milik Sari. Alhasil, Sari selalu menangis tiap menemukan baju ganti dan sepatu kesayangannya lenyap entah kemana. Kemudian Heri, kawan sekaligus lawan dalam bersaing memperebutkan cinta Ida. Heri pun juga bernasib sama seperti aku, tak jua memperoleh cinta dari Ida. Akhirnya kami, dua pria cilik tanpa cinta, menjlin persahabatan. Persahabatan karena persamaan nasib, begitu erat…

Bayu, tetangga sebelah rumah sekaligus si tukang bual. Bahkan bualannya pernah membuatku harus menyanyi di depan kelas gara-gara dia berhasil memprovokasi Ibu Guru dan teman-teman sekelas dengan berkata bahwa aku adalah juara lomba menyanyi anak-anak se RT waktu acara 17an. Yups saat disuruh maju, nyanyian andalan anak kecil zaman itu pun aku keluarkan. Lagu yang dinyanyikan Ahmad Albar, penyanyi favoritku saat itu, yaitu Huma Di Atas Bukit. Sayang, Tuhan tidak mengkaruniaiku suara seindah vokalis God Bless ini. Jadilah lagu ini lebih mirip nyanyian anak kecil dikejar setan. Malu tujuh keliling, apalagi tampil di depan Ida dan Ibu Suwarni.

Aku juga pernah ngompol di kelas. Memalukan sekali. Tapi itu lebih baik daripada aku harus menahan hasrat ingin pipis lebih lama lagi, dan siap tahu aku akan kena radang kandung kemih gara-gara hal ini. Tapi faktanya adalah karena aku takut ke kamar mandi sekolah sendirian. Maklum, waktu itu kamar mandi sekolah yang begitu sepi adalah salah satu momok paling menakutkan bagi anak sekecil aku. Dan saat para siswa sedang asyik-asyiknya menggambar, tiba-tiba ada air mengalir dari bangku mungilku ditambah merebaknya bau pesing. Kelas pun bubar. Alhasil, pada hari itu aku menjadi siswa yang pulang paling awal daripada teman-temanku. Dan Bapak Penjaga Kebun Sekolah pun dengan sukarela meminjamkan celananya ke aku. Hebat bukan…???

Lantas bagaimana prestasiku selama di TK. Wah, itu cerita lain lagi. Mungkin episode depan sekaligus sebagai penutup cerita masa-masa TK ku yang indah. Malam ini aku ingin pulang ke kos, mandi, terus tidur….

 

TK-ku Sudah Tidak Ada (1) 9 May, 2008

Filed under: Diriku — saputrairfan @ 6:54 am
Tags:

Saat aku ke Jogja beberapa waktu lalu, tanpa sengaja aku lewat depan TK tempatku menempuh pendidikan formal pertama kali 20 tahun yang lalu. Ternyata TK SPG Negeri 2 sudah tidak ada. SPG adalah singkatan dari Sekolah Pendidikan Guru. Kini di papan nama yang nampak mewah, terpampang TK Dharma Rini. Sebuah TK yang telah difasilitasi dengan kolam renang. Banyak pula mobil-mobil berjejer disana. Tidak seperti dulu, sekolah sederhana dengan fasilitas bermain yang minim.

Taman kanak-kanak (kindergarten) adalah pendidikan formal pertama yang aku masuki. Mulai masuk bangku TK tepat pada usia 4 tahun. Yang paling aku ingat selama bersekolah di TK ini ada beberapa. Seragam putih dengan rompi dan celana pendek berwarna hijau klorofil. Tiap pagi berangkat pukul 8 dan biasanya aku dititipkan ke Ibu Suwarni, salah satu guru TK yang tiap berangkat pasti melewati depan rumahku. Kalau berjalan kaki, paling hanya 5 menit saja. Bagi anak-anak balita sepertiku saat itu, momok ketakutan terbesar adalah saat menyeberang jalan. Untunglah ada Bu Warni, guru TK-ku yang cantik (apa sekarang masih secantik dulu ya…?)

Pelajaran di TK masih sebatas ke arah permainan, mendongeng, menyanyi, menggambar, kadang diselipi dengan palajaran budi pekerti. Tiap pagi diawali dengan berdoa, lantas menghormat ke arah guru. Kami serentak mengucapkan: “Selamat Pagi Bu Guru”. pelajaran pun dimulai. Saat jarum jam menunjukkan pukul 10.30, Ibu Guru kami pasti bilang: “Hari sudah siang, saatnya anak-anak untuk pulang”. Kelas pun pasti riuh teriakan gembira khas anak-anak. Setelah berdoa, kembali kami menghormat ke arah Bu Guru dengan serentak mengucapkan: “Selamat Siang Bu Guru”. Setelah itu kami pun menghambur keluar dengan tak lupa mencium tangan Bu Guru dan Ibu Kepala TK.

Masa-masa TK memang indah. Lantas bagaimana dengan teman-temanku waktu itu? Aku ceritakan besok saja ya. Saatnya aku pulang ke Jogja. Aku rindu Ayah, aku rindu Ibu…