Prestasiku di TK tentu saja sudah bisa ditebak. Sungguh minim. Bayangkan lomba-lomba yang diadakan untuk ukuran anak TK lebih kepada sesuatu yang berbau seni. Diantaranya melukis/mewarnai, prakarya, hingga kostum Kartini-an. Sejak kecil aku bukanlah ahli melukis. Lukisan yang bisa aku buat ketika masih TK benar-benar standar anak-anak. Dua buah gunung dengan matahari diantara dua gunung itu, ditambah dengan jalan menikung dari ujung kiri hingga ujung kanan, kemudian ada rumah, sawah, pohon kelapa, dan tak lupa awan dan burung. Tak ada unsur uniqueness karya seorang maestro lukis. Bahkan untuk melukis orang pun aku tak bisa.
Prakarya…??? Justru lebih payah. Permainan tanah liat pun aku buat patung abstrak (yang hingga kini aku tak tahu benda apa yang aku buat waktu itu), permainan puzzle kayu pun tak pernah berhasil biarpun sudah aku coba puluhan kali, apalagi menganyam. Super duper parah… Aku hanya mampu membuat rantai dari kertas warna terpanjang di kelas. Itupun dengan cara licik mensabotase karya Ipung dan Aan dengan diam-dian aku injak rantainya yang faktanya lebih panjang dari punyaku. Hahaha, sabotase tingkat tinggi oleh seorang anak TK.
Lomba kostum Kartini adalah lomba yang paling aku benci. Waktu masih kecil pun aku sudah menyadari betapa tidak modelable_nya diriku ini. Kata lain, memakai baju apapun tidak eye catching. Namun aku tak pernah menyalahkan faktor genetik, apalagi orang tua. Allah menciptakan aku dengan bentuk dan muka seaneh ini, pasti ada maksudnya (menghibur diri lah). Apalagi bila harus bersaing dengan teman-teman yang rata-rata memakai kostum mahal yang tentu saja orang tua mereka mampu membelikannya. Ada yang memakai kostum pelaut, tentara, polisi, hingga surjan Jawa. Dan yang perempuan (terutama Ida) begitu aduhai dengan balutan pakaian adat Jawa dengan sanggul di kepalanya dan make up tebal di mukanya hingga aku kira lebih mirip memakai dempul. Sedangkan kostum Kartinian yang aku pakai pun seadanya. Paling banter bergaya melayu dengan celana panjang, baju koko, peci, di padu dengan sarung selutut. Aku pun kian tampak aneh…
Prestasi yang bisa aku banggakan hanya berupa prestasi informal. Juara lomba makan kerupuk, lomba lari kelereng, serta anak yang paling tinggi mampu memanjat pohon rambutan yang ada di kebun belakang sekolah. Bagi teman-teman dan guruku, mungkin bukanlah prestasi berharga. Namun bagiku, itu adalah sebuah kebanggaan. Bukankah ketrampilan dan keahlian tiap orang itu berbeda-beda? Biarpun tampak konyol dan bodoh di satu bidang, namun anak sekecil aku waktu itu memiliki bakat lain yang mungkin hanya segelintir anak yang punya. Yups… seperti kancil yang licik, aku mampu mengendalikan dan memperdaya beberapa temanku untuk mau menjadi semacam “anak buah”. Hal yang diluar dugaan untuk anak sekecil aku, sudah mampu menjadi kepala geng di TK. Bukankah itu prestasi yang membanggakan…??
Masa TK sungguh luar biasa. Awal aku mengenal dunia luar. Starting point bagiku untuk menapak dan menatap dunia lebih jauh. Begitu mengagumkan…