
Setelah hingar bingar liga domestik di tiap negara telah usai dan ditutup dengan partai pamungkas Liga Champions, mulai Sabtu 7 Juni kemarin Eropa kembali akan menggelar perhelatan akbar Piala Eropa 2008 alias Euro 2008. Dua negara di daratan Eropa, Austria dan Swiss, kali ini memperoleh kesempatan menjadi tuan rumah pagelaran Euro 2008. Kedua negara yang justru tidak memiliki sejarah emas di kancah sepakbola dunia.
Swiss, yang lebih dikenal sebagai negara 1001 bank, liga domestiknya tak terlalu ngetop. Mungkin kenangan indah mengenai persepakbolaan di negara ini justru ditorehkan oleh mantan striker timnas kita, Kurniawan Dwi Yulianto. Selama semusim penuh ia tampil sebagai penghuni skuad FC Luzern di Liga Swiss. Di kompetisi Eropa pun Swiss kurang mampu unjuk gigi. Segelintir pula pemain terkenal yang bermain di klub top Eropa. Tercatat hanya ada palang pintu Phillipe Sanderos yang membela Arsenal dan striker Alexander Frei yang memperkuat Borussia Dortmund.
Demikian pula dengan Austria. Jarang kita mendengar negara ini berprestasi di kancah Eropa, apalagi dunia. Deretan nama di line up, serta sejarah persepakbolaan Austria yang kurang mengesankan, membuat sebagian besar pengamat maupun bursa taruhan tidak menempatkan negara ini sebagai kandidat juara.
Namun bola itu bundar. Siapa sangka pada Euro 2004 di Portugal lalu, Yunani yang sama sekali tidak diperhitungkan mampu membalikkan perkiraan para pengamat. Piala kejuaraan pun berhasil direngkuh negerinya Hercules ini. Namun kali ini tim-tim unggulan datang dengan skuad terbaiknya. Tim Panser Jerman datang dengan sederet bintang seperti Klose, Ballack, Lahm, hingga Lehmann. Negeri kincir angin Belanda mengandalkan ketajaman van Nistelrooy, Sneijder, Klas Jan Huntelaar, van Persie, serta ketangguhan Edwin van der Sar. Tim Azzuri Italia juga siap memamerkan aksi Luca Toni, del Piero, Pirlo, serta Buffon. Tim Matador Spanyol tak mau kalah dengan mengandalkan Casillas, Sergio Ramos, Torres, serta Fabregas. Hanya sayangnya kita tak akan bisa menyaksikan aksi Rooney, Gerrard, maupun Owen karena tim simbah-nya sepakbola, Inggris, gagal total di babak kualifikasi.
Sepakbola memang memberikan dampak yang besar. Dari sisi ekonomi, penyelenggara Euro biasanya akan menangguk untung besar dari penjualan tiket, sponsorship, maupun hak siar. Belum lagi dari penjualan marchendise dan atribut tim peserta, transportasi, hingga visa. Namun di lain hal, pihak keamanan juga harus extra hati-hati karena ancaman kerusuhan supporter pun sering terjadi.
Demam Euro 2008 terasa pula di Indonesia. Tiga televisi swasta akan menyiarkan seluruh pertandingan yang ada. Tentu hal ini akan memanjakan mata para penggila bola tanah air. Sejak dulu, sepakbola adalah olahraga paling populer di Indonesia. Sayangnya kenyataan ini tidak didukung oleh prestasi tim merah putih yang masih minim.
Semoga saja penyelenggaraan Euro 2008 ini mampu menjadi hiburan tersendiri terutama bagi kalangan kelas menengah kebawah, untuk sejenak melupakan kepenatan pasca kenaikan harga BBM yang diperparah pula dengan kenaikan tarif transportasi dan harga sembako. Yang penting cukup menonton saja, berteriak sepuasnya pun boleh saat tim jagoan Anda mencetak gol, namun jangan sampai menjadi ajang untuk judi. Ingat kata Bang Rhoma, “judi itu tak ada gunanya.” Jadi, menurut Anda siapa yang akan menjadi negara terkuat di Eropa? Kalau saya tetap pegang Jerman.